Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Negara Dipermalukan di Kantor Polisi: Warga Dihajar Beramai-ramai, Aparat Diduga Hanya Jadi Penonton

31
×

Negara Dipermalukan di Kantor Polisi: Warga Dihajar Beramai-ramai, Aparat Diduga Hanya Jadi Penonton

Sebarkan artikel ini

Jakarta – MediaViral.co

Jika masih ada yang percaya hukum berdiri tegak di negeri ini, mungkin peristiwa di Polda Metro Jaya, Rabu (25/3/2026), akan membuat keyakinan itu runtuh seketika. Di tempat yang seharusnya menjadi benteng terakhir keadilan, justru terjadi aksi barbar: seorang warga negara dihajar habis-habisan oleh puluhan orang—di depan mata polisi.

Example 300250

Faisal (50), yang datang memenuhi undangan resmi untuk proses konfrontir, justru “disambut” dengan bogem mentah. Lebih dari 20 orang diduga mengeroyoknya tanpa ampun. Pukulan menghantam wajah, tubuh, hingga korban tak berdaya. Yang lebih mengejutkan: semua itu terjadi di ruang institusi hukum—bukan di jalanan, bukan di gang gelap.

Di mana polisi saat itu?

Pertanyaan itu kini menghantui publik.


Hukum Rimba Menggantikan Hukum Negara

Saksi mata menggambarkan kejadian tersebut seperti adegan film kriminal—bedanya, ini nyata. Massa yang disebut dipimpin Fadh Arafiq bersama istrinya, Ranny Fadh Arafiq, bertindak layaknya penguasa. Tidak ada rasa takut. Tidak ada upaya menghentikan. Tidak ada wibawa hukum.

Yang ada hanya satu: hukum rimba.

Siapa kuat, dia menang. Siapa punya massa, dia berkuasa.

Jika di dalam kantor polisi saja seseorang bisa dihajar beramai-ramai tanpa perlindungan, maka di mana lagi rakyat harus mencari rasa aman?


Wilson Lalengke Meledak: “Polisi Dibayar untuk Melindungi atau Membiarkan?”

Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, tak mampu menyembunyikan kemarahannya. Ia menyebut peristiwa ini sebagai penghinaan telanjang terhadap negara.

“Ini bukan sekadar pengeroyokan. Ini adalah tamparan keras untuk wajah hukum Indonesia! Bagaimana mungkin puluhan orang menganiaya satu orang di kantor polisi, dan aparat tidak mampu—or tidak mau—mencegahnya?” tegasnya.

Lebih keras lagi, Wilson mempertanyakan integritas aparat.

“Polisi itu digaji oleh rakyat! Kalau di depan mata mereka saja kekerasan dibiarkan, lalu apa fungsi mereka? Apakah hukum sudah bisa dibeli? Apakah yang berkuasa sekarang adalah uang dan massa?” ujarnya dengan nada geram.

Ia mendesak Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, untuk tidak diam.

“Tangkap semua pelaku! Jangan hanya yang di lapangan, tapi juga aktor di belakangnya. Kalau ini dibiarkan, jangan salahkan rakyat jika kehilangan kepercayaan total terhadap polisi!” katanya.


Korban Terluka, Negara Terhina

Hingga kini, Faisal masih terbaring lemah di rumah sakit di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Ia mengalami luka lebam, pusing hebat, mual, dan trauma akibat pengeroyokan brutal tersebut.

Namun luka Faisal bukan sekadar luka fisik.

Itu adalah luka bagi keadilan. Luka bagi negara.


Dugaan Keterlibatan Oknum: Kekuasaan Kebal Hukum?

Informasi yang beredar menyebut adanya dugaan keterlibatan oknum aparat dan lingkar kekuasaan. Seorang oknum TNI berinisial WLY disebut berada di lokasi dan diduga ikut terlibat. Sementara itu, Ranny Fadh Arafiq dikabarkan berada di tempat kejadian dan bahkan merekam peristiwa tersebut.

Jika benar, ini bukan lagi sekadar kasus pengeroyokan.

Ini adalah gambaran telanjang tentang bagaimana kekuasaan bisa berdiri di atas hukum.


Ujian Terbesar Polri: Masih Berpihak pada Rakyat atau Tidak?

Kini, semua mata tertuju pada Kapolri. Tidak ada lagi ruang untuk alasan, tidak ada lagi ruang untuk pembiaran.

Publik menunggu:
Apakah hukum akan ditegakkan tanpa pandang bulu?
Atau justru kembali tumpul ke atas, tajam ke bawah?

Jika kasus ini menguap, maka pesan yang sampai ke rakyat sangat jelas:
Siapa pun yang punya kekuasaan dan massa, bisa melakukan apa saja—bahkan di kantor polisi sekalipun.

Dan jika itu terjadi, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan publik.

Tapi juga makna negara itu sendiri. (mediaviral.co)

Example 300x375