Surabaya, Jawa Timur – MediaViral.co
Pernyataan keras dilontarkan Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Suli Da’im. Ia menegaskan, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bukan sekadar kebijakan pendidikan, melainkan “garis hidup” masa depan Jawa Timur. Jika terus dikompromikan, ia memperingatkan, daerah ini berisiko mencetak generasi lemah yang kalah bersaing.
“Ini bukan lagi soal pilihan metode belajar. Ini soal hidup-matinya kualitas SDM kita. Kalau PTM tidak dijadikan prioritas utama, kita sedang membuka pintu kegagalan besar,” tegas Suli dengan nada tajam di Surabaya.
Ia secara blak-blakan menyebut pembelajaran daring yang berkepanjangan sebagai “bom waktu” bagi dunia pendidikan. Menurutnya, ketergantungan pada sistem digital bukan hanya menurunkan kualitas akademik, tetapi juga menggerus karakter generasi muda.
“Jangan bangga dengan teknologi kalau akhirnya melahirkan generasi yang miskin disiplin, lemah mental, dan kehilangan arah. Pendidikan itu bukan layar, tapi interaksi nyata,” serangnya.
Suli menilai, ruang kelas adalah benteng terakhir pembentukan karakter—tempat nilai etika, kepemimpinan, dan tanggung jawab ditanamkan. Ketika itu digantikan oleh layar gadget, yang terjadi bukan kemajuan, melainkan kemunduran yang perlahan tapi pasti.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ia menyoroti jurang ketimpangan yang makin menganga. Daerah dengan akses internet terbatas akan semakin tertinggal jika sistem daring dipaksakan.
“Ini bukan sekadar ketimpangan, ini ketidakadilan yang dibiarkan. Anak-anak di daerah terpencil dipaksa bersaing tanpa senjata yang sama. Ini berbahaya dan tidak boleh terus terjadi,” ujarnya lantang.
Dengan nada tanpa kompromi, Komisi E DPRD Jatim mendesak agar PTM dijadikan arus utama yang tidak bisa diganggu gugat. Pembelajaran daring, kata dia, hanya layak digunakan dalam kondisi darurat—bukan dijadikan kebiasaan.
Tak berhenti di situ, Suli juga menekan pemerintah untuk tidak setengah hati. Ia menuntut pemerataan fasilitas pendidikan, peningkatan kualitas guru secara masif, serta kurikulum adaptif yang benar-benar relevan—bukan sekadar wacana di atas kertas.
“Kalau pendidikan dikelola setengah-setengah, hasilnya juga setengah gagal. Dan dampaknya bukan hari ini saja, tapi puluhan tahun ke depan,” katanya.
Suli memastikan DPRD akan mengawasi ketat setiap kebijakan pendidikan. Ia menegaskan, tidak boleh ada lagi kebijakan yang hanya bagus di dokumen, tetapi kosong di lapangan.
“Ini soal masa depan Jawa Timur. Kalau hari ini kita lengah, bersiaplah melihat generasi kita kalah di rumah sendiri,” pungkasnya. (mediaviral.co)
















