Batu Bara, Sumatera Utara – MediaViral.co
Suasana di depan kompleks Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Labuhan Ruku berubah menjadi riuh dan penuh semangat, Senin (11/05/2026). Puluhan wartawan yang tergabung dalam berbagai organisasi pers di Kabupaten Batu Bara turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi serta menuntut perbaikan mendasar atas berbagai dugaan persoalan yang terjadi di dalam lembaga pemasyarakatan tersebut.
Aksi ini digelar sebagai bentuk kepedulian insan pers terhadap keterbukaan informasi publik dan untuk memastikan lembaga pemasyarakatan berjalan sesuai fungsi serta tujuannya, bebas dari praktik yang dinilai mencederai rasa keadilan dan kepercayaan masyarakat.
Aksi tersebut dipicu oleh insiden yang terjadi pada Rabu malam, 29 April 2026 sekitar pukul 20.30 WIB. Saat itu, sejumlah awak media mendatangi Lapas Labuhan Ruku untuk meliput peristiwa kaburnya seorang tahanan yang menjadi perhatian publik. Namun, para jurnalis mengaku mengalami hambatan saat menjalankan tugas peliputan.
Menurut keterangan sejumlah wartawan, mereka dilarang mendekati lokasi kejadian dan mengalami kesulitan dalam mengumpulkan data serta informasi terkait kasus tersebut. Bahkan, beberapa wartawan mengaku mendapat intimidasi verbal saat menjalankan tugas jurnalistik mereka.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi titik awal bersatunya berbagai elemen pers dalam gerakan bertajuk “Pers Batubara Bergerak”.
Dalam aksi itu, para wartawan juga menyoroti sejumlah dugaan persoalan serius di lingkungan lapas. Mereka menyebut adanya informasi mengenai dugaan praktik mafia, penyimpangan internal, hingga aktivitas ilegal yang dinilai telah merusak citra lembaga pemasyarakatan di mata masyarakat.
Melalui orasi yang disampaikan, massa aksi mengajukan sejumlah tuntutan kepada pemerintah pusat maupun pihak terkait. Salah satunya mendesak Yusril Ihza Mahendra untuk turun langsung melakukan investigasi menyeluruh terhadap berbagai dugaan penyimpangan yang terjadi di Lapas Labuhan Ruku.
Selain itu, mereka juga meminta Direktur Jenderal Pemasyarakatan mengusut tuntas dugaan kasus kematian narapidana yang selama ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Massa menuntut agar penanganan kasus dilakukan secara transparan dan terbuka kepada publik.
Insan pers juga menyoroti perlunya evaluasi terhadap pimpinan lapas atas berbagai persoalan yang dinilai terus berulang. Mereka mendorong pembentukan tim investigasi independen guna membongkar dugaan aktivitas ilegal di dalam lapas, seperti peredaran narkotika, penggunaan telepon genggam ilegal oleh narapidana, dugaan jual beli kamar, hingga berbagai praktik bisnis terselubung lainnya.
Tidak hanya itu, massa aksi turut menyoroti kinerja bagian Hubungan Masyarakat (Humas) lapas. Mereka mendesak evaluasi terhadap pejabat Humas bernama Rizki yang dinilai gagal menjaga keterbukaan informasi dan hubungan baik dengan insan pers maupun masyarakat.
Meski berlangsung penuh semangat, aksi berjalan tertib dan kondusif dengan pengamanan dari aparat kepolisian. Pengamanan dipimpin langsung oleh AKP Arianto Sitorus bersama jajaran dari Kepolisian Sektor Talawi.
Di tengah jalannya aksi, Kepala Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku, Hasibuan, akhirnya menemui para pengunjuk rasa dan berdialog secara langsung. Dalam pertemuan tersebut, pihak lapas mendengarkan berbagai aspirasi dan keluhan yang disampaikan insan pers terkait keterbukaan informasi serta dugaan persoalan internal lapas.
Sebagai bentuk komitmen memperbaiki hubungan dengan insan pers, Kepala Lapas menyampaikan rencana untuk menggelar pertemuan rutin melalui kegiatan “kopi pagi”. Kegiatan itu diharapkan menjadi wadah komunikasi antara pihak lapas dan wartawan agar informasi dapat tersampaikan dengan baik serta menghindari kesalahpahaman di kemudian hari. (mediaviral.co)
















