Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Rekan Indonesia Soroti Politik Ketakutan dalam Isu Virus Hanta dan Pentingnya Edukasi Pencegahan

0
×

Rekan Indonesia Soroti Politik Ketakutan dalam Isu Virus Hanta dan Pentingnya Edukasi Pencegahan

Sebarkan artikel ini

Jakarta Selatan, 16 Mei 2026 — MediaViral.co

Rekan Indonesia menyoroti munculnya pola komunikasi publik yang dinilai lebih menekankan rasa takut dibandingkan edukasi pencegahan dalam pemberitaan mengenai virus Hanta yang belakangan ramai dibahas di media internasional maupun media sosial.

Example 300250

Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho, menyatakan bahwa masyarakat perlu mendapatkan informasi kesehatan yang utuh, berimbang, dan berbasis edukasi, bukan sekadar paparan narasi ancaman yang memicu kepanikan publik.

Menurut Agung, isu kesehatan global saat ini tidak lagi berdiri semata sebagai persoalan medis, melainkan juga telah menjadi bagian dari dinamika ekonomi, industri, media, dan politik informasi global.

“Ketika muncul isu virus baru, masyarakat sering kali langsung dibanjiri judul-judul yang menakutkan. Padahal, publik juga membutuhkan penjelasan yang sederhana mengenai bagaimana cara mencegah, mengenali risiko, dan melakukan penanganan awal secara tepat,” ujar Agung Nugroho dalam keterangan pers Rekan Indonesia di Jakarta Selatan, Sabtu (16/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa Hantavirus memang merupakan penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal. Namun demikian, virus tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan COVID-19 karena sebagian besar jenisnya tidak mudah menular antarmanusia dan penyebarannya masih relatif terbatas.

Dalam keterangannya, Rekan Indonesia juga menilai bahwa berkembangnya isu penyakit menular sering kali berkaitan dengan meningkatnya kepentingan industri kesehatan global. Ancaman wabah akan memunculkan kebutuhan baru terhadap riset, alat diagnostik, obat-obatan, hingga pengembangan vaksin dan teknologi kesehatan.

Meski demikian, Agung menegaskan bahwa kritik terhadap industri farmasi global tidak boleh diarahkan menjadi penolakan terhadap ilmu pengetahuan maupun upaya kesehatan masyarakat.

“Kita harus tetap objektif. Industri kesehatan memang memiliki kepentingan ekonomi, tetapi tenaga kesehatan dan ilmuwan juga bekerja untuk mencegah jatuhnya korban. Yang perlu dikritisi adalah bagaimana informasi kesehatan disampaikan agar tidak berubah menjadi produksi ketakutan massal,” katanya.

Rekan Indonesia menilai pola komunikasi media modern cenderung mengedepankan aspek sensasional karena informasi yang memicu rasa takut dinilai lebih mudah menarik perhatian publik. Akibatnya, edukasi praktis mengenai pencegahan sering kali kalah menonjol dibandingkan narasi ancaman wabah.

Padahal, menurut Agung, langkah pencegahan virus Hanta justru lebih banyak berkaitan dengan kesehatan lingkungan dan sanitasi masyarakat.

“Pencegahan virus Hanta sebenarnya sangat konkret. Menjaga kebersihan rumah, mengendalikan populasi tikus, memperbaiki sanitasi lingkungan, serta menggunakan pelindung saat membersihkan area yang terkontaminasi menjadi langkah penting yang harus dipahami masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membersihkan kotoran tikus dengan cara disapu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel berbahaya beterbangan di udara dan terhirup manusia. Rekan Indonesia mendorong penggunaan cairan disinfektan terlebih dahulu sebelum proses pembersihan dilakukan.

Selain itu, Rekan Indonesia meminta pemerintah dan media untuk lebih memperkuat edukasi kesehatan berbasis komunitas, terutama di wilayah dengan persoalan sanitasi buruk dan kepadatan permukiman tinggi yang rentan terhadap berkembangnya hewan pengerat.

Menurut Agung, pengalaman dunia menghadapi pandemi COVID-19 pandemic telah membuat masyarakat global menjadi sangat sensitif terhadap kemunculan virus baru. Situasi tersebut menyebabkan banyak informasi kesehatan disampaikan dengan pendekatan kewaspadaan tinggi yang terkadang berlebihan.

“Trauma pandemi membuat dunia mudah panik terhadap isu kesehatan baru. Karena itu, komunikasi publik harus tetap rasional dan proporsional. Kewaspadaan penting, tetapi masyarakat juga perlu diberi ketenangan dan pengetahuan yang jelas,” katanya.

Di akhir keterangannya, Rekan Indonesia mengajak masyarakat untuk tetap waspada tanpa terjebak dalam kepanikan maupun teori konspirasi yang berlebihan. Organisasi tersebut menilai bahwa edukasi kesehatan yang jernih, sederhana, dan mudah dipahami merupakan langkah paling penting dalam menjaga kesehatan publik di tengah derasnya arus informasi global saat ini.

“Yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya kabar tentang ancaman penyakit, tetapi juga panduan yang jelas tentang bagaimana tetap aman, sehat, dan tidak panik menghadapi situasi,” tutup Agung Nugroho. (mediaviral.co)

Example 300x375