Kayuagung, OKI, Sumatera Selatan – MediaViral.co
Lupakan sejenak hiruk-pikuk Lebaran di kota besar. Di Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), ada satu momen yang justru jadi puncak sesungguhnya Idul Fitri—bukan di hari pertama, melainkan hari ke-3 atau ke-4, saat tradisi “Midang Morge Siwe” mengguncang seluruh wilayah.
Ini bukan acara biasa. Ini adalah ledakan budaya yang membuat seluruh kelurahan se-Kayuagung “turun gunung”. Jalanan dipenuhi lautan manusia, suara tawa bersahutan, dan satu pesan kuat menggema: tradisi ini tidak bisa dihentikan.
Di tengah gempuran modernisasi yang perlahan mengikis jati diri banyak daerah, Kayuagung justru menunjukkan perlawanan. Midang Morge Siwe hadir bukan sekadar seremoni—melainkan pernyataan tegas bahwa budaya lokal masih hidup, bahkan semakin beringas.
“Kalau Lebaran tanpa Midang Morge Siwe, rasanya kosong. Ini bukan pelengkap, ini inti dari perayaan kami,” tegas seorang warga.
Fenomena ini bahkan menjadi magnet emosional. Banyak perantau rela menunda kepulangan hanya demi satu momen ini. Bukan tanpa alasan—di sinilah semua batas runtuh. Status sosial lenyap, perbedaan melebur, dan masyarakat kembali ke akar: kebersamaan.
Siti, warga Kelurahan Kedaton, menggambarkan suasana yang nyaris tak tergantikan:
“Ini bukan sekadar kumpul. Ini momen di mana semua orang kembali jadi keluarga. Hangat, ramai, dan penuh rasa memiliki.”
Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan yang lebih dalam—peringatan keras bagi generasi muda. Jika tradisi seperti ini tak dijaga, maka identitas bisa hilang ditelan zaman.
Pemerintah Kecamatan Kayuagung pun angkat bicara. Dukungan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
“Midang Morge Siwe adalah benteng budaya. Kalau ini hilang, kita kehilangan jati diri. Ini harus terus hidup,” tegas Camat Kayuagung.
Acara berlangsung hingga sore dengan intensitas yang tak surut. Bukan hanya meriah—tapi juga sarat makna. Midang Morge Siwe kini bukan sekadar warisan, melainkan simbol perlawanan terhadap lupa.
Di saat banyak tradisi mati perlahan, Kayuagung justru berteriak lantang:
“Budaya kami tidak akan punah!” (mediaviral.co)
















