Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

PT Murinda Telen Disorot Soal Tenaga Kerja, Hanya 30 Persen Warga Lokal — Sisanya Didatangkan dari Luar Daerah

42
×

PT Murinda Telen Disorot Soal Tenaga Kerja, Hanya 30 Persen Warga Lokal — Sisanya Didatangkan dari Luar Daerah

Sebarkan artikel ini

Simalungun, Sumatera Utara – MediaViral.co

Sorotan publik terhadap PT Murinda Telen kian menguat. Pasalnya, perusahaan tersebut diketahui hanya mempekerjakan 30 persen tenaga kerja lokal, sementara 70 persen posisi strategis dan teknis justru diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah.

Example 300250

Kondisi ini memicu pertanyaan besar dari masyarakat sekitar yang menilai perusahaan belum sepenuhnya memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan warga setempat.

Menanggapi isu tersebut, Humas PT Murinda Telen, Agus Maulana, akhirnya buka suara dalam pertemuan resmi yang digelar di Jalan Pematang Siantar, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, Selasa malam (15/10/2025). Ia hadir bersama Khairul Afdi Lubis dan didampingi Pangulu Nagori Timbaan, Yusman Damanik.

Dalam keterangannya, Agus Maulana berdalih bahwa komposisi tenaga kerja yang timpang itu disebabkan oleh kebutuhan teknis di lapangan yang menuntut keahlian tinggi.

“Kami tidak menutup kesempatan bagi tenaga kerja lokal. Namun, untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus dan pengalaman teknis tinggi, kami terpaksa mendatangkan tenaga dari luar agar mutu dan target pekerjaan tetap tercapai,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disambut beragam reaksi di masyarakat. Sebagian pihak menilai perusahaan seharusnya sejak awal melakukan pelatihan dan pembinaan tenaga kerja lokal agar mampu mengisi posisi penting, bukan justru terus bergantung pada tenaga luar.

Sementara itu, Pangulu Nagori Timbaan, Yusman Damanik, menegaskan pentingnya keberpihakan perusahaan terhadap masyarakat sekitar.

“Kami menghargai klarifikasi perusahaan, tapi ke depan kami minta agar tenaga kerja lokal diperbanyak. Warga kami juga punya kemampuan, hanya perlu kesempatan dan pembinaan. Jangan sampai perusahaan besar hadir di wilayah kami, tapi masyarakatnya hanya jadi penonton,” tegas Yusman.

Pertemuan itu akhirnya menghasilkan komitmen antara pemerintah nagori dan pihak perusahaan untuk membuka ruang dialog lanjutan serta meninjau kembali kebijakan perekrutan agar lebih berpihak pada masyarakat setempat.

Di sisi lain, masyarakat juga menaruh harapan besar terhadap kehadiran perusahaan baru seperti PT SD Guthrie, agar benar-benar mampu memberikan lapangan kerja bagi warga lokal, bukan sekadar menjadi penonton di tanah sendiri.

“Kami berharap PT SD Guthrie bisa menampung lebih banyak tenaga kerja lokal dan tidak mengulang pola yang sama seperti perusahaan sebelumnya. Jangan sampai masyarakat hanya dapat debu dan janji,” ujar Rijal, perwakilan warga dengan nada tegas.

Kehadiran industri besar di Simalungun seharusnya menjadi berkah bagi masyarakat, bukan sekadar simbol investasi tanpa manfaat sosial. Jika komitmen terhadap tenaga lokal terus diabaikan, bukan tidak mungkin ke depan gelombang penolakan dan protes masyarakat akan semakin menguat.


Reporter: Rijal
Editor: Redaksi MediaViral.co

Example 300x375