Tulang Bawang Barat – MediaViral.co
Kemunculan Nyonya Lee, pemilik Sugar Group, di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) saat mempromosikan sekolah politeknik setempat menuai beragam reaksi publik. Di satu sisi, langkah tersebut dinilai positif karena mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal. Namun di sisi lain, kehadiran tersebut justru memantik pertanyaan besar: di mana peran negara setelah ribuan pekerja Sugar Group kehilangan mata pencaharian dan sebagian lahan perusahaan disita negara?
Publik menilai, promosi pendidikan yang dilakukan pihak swasta—terlebih oleh pemilik perusahaan besar—tidak bisa dilepaskan dari konteks konflik agraria, pemutusan hubungan kerja (PHK), serta dampak sosial yang masih dirasakan masyarakat Lampung, khususnya di wilayah Tulang Bawang dan sekitarnya.
“Kalau pihak swasta saja bisa bicara pendidikan dan masa depan anak-anak daerah, lalu negara ke mana?” ujar salah satu tokoh masyarakat Tulang Bawang yang enggan disebutkan namanya, Senin (26/1/2026).
Sorotan publik kini mengarah pada pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga institusi negara seperti TNI AU yang memiliki aset di wilayah Tulang Bawang. Masyarakat mempertanyakan kemungkinan dibangunnya sekolah kesehatan gratis—baik dalam bentuk SMK Kesehatan maupun politeknik kesehatan—sebagai solusi jangka panjang bagi anak-anak dari keluarga petani dan buruh terdampak.
Menurut warga, pendidikan vokasi berbasis kesehatan sangat relevan mengingat tingginya kebutuhan tenaga perawat, bidan, dan tenaga kesehatan di Lampung, sekaligus dapat membuka lapangan kerja baru pasca menurunnya penyerapan tenaga kerja oleh Sugar Group.
“Jangan sampai setelah perusahaan besar tak lagi mempekerjakan banyak karyawan, negara justru absen. Harus ada transisi ekonomi yang jelas, salah satunya lewat pendidikan gratis yang berorientasi kerja,” tegas warga lainnya.
Hingga kini, belum terlihat langkah konkret dari Pemerintah Provinsi Lampung maupun pemerintah kabupaten untuk menjawab tantangan tersebut. Program penciptaan lapangan kerja dan pendidikan gratis bagi masyarakat terdampak dinilai masih sebatas wacana dan seremoni.
Publik berharap, Lampung tidak hanya menjadi daerah eksploitasi sumber daya, tetapi juga wilayah yang serius membangun masa depan generasi mudanya. Jika tidak, maka krisis sosial akibat pengangguran dan ketimpangan dikhawatirkan akan terus membesar.
MediaViral.co akan terus memantau perkembangan serta meminta klarifikasi dari pihak-pihak terkait. (mediaviral.co)
















