Ternate, Maluku Utara – MediaViral.co
Kritik Wali Kota Ternate terhadap Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, karena disebut “tak pernah hadir” di Ternate, justru berbalik menjadi bumerang. Fakta di lapangan menunjukkan sebuah plot twist: bukan gubernur yang tak datang, melainkan sang wali kota yang tak terlihat saat gubernur turun langsung.
Saat mahasiswa turun ke jalan, saat banjir merendam Jambula, saat warga membutuhkan perahu dan bantuan darurat—Gubernur Sherly tercatat hadir dan menyalurkan bantuan langsung ke masyarakat. Pertanyaannya sederhana: apakah itu bukan wilayah Ternate?
Ironisnya, di saat bantuan sudah dibagi ke kiri-kanan, warga sudah disentuh langsung oleh gubernur, barulah suara kritik itu muncul. Seolah-olah masalah baru dianggap ada jika seremoni lewat jalur birokrasi—harus lewat pemkot dulu, harus serah terima resmi dulu, baru boleh sampai ke rakyat.
Padahal, gaya kepemimpinan Sherly justru dikenal sebaliknya. Ia bukan tipe pemimpin yang betah duduk manis di balik meja ber-AC. Ia hadir, turun, mendengar, dan menyerap keluhan warga secara langsung. Kerja di lapangan, bukan sekadar rapat di ruangan.
Yang membuat publik mengernyit, mengapa Wali Kota begitu ngotot menyoal “ketidakhadiran”, sementara warga justru melihat kehadiran itu nyata? Mengapa narasi yang dibangun seolah personal, bukan substansial? Padahal, dalam banyak agenda resmi dan acara pemerintahan, pertemuan antara gubernur dan wali kota bukanlah hal langka.
Publik pun bertanya-tanya:
Apakah yang dipersoalkan benar-benar soal koordinasi pemerintahan, atau sekadar soal ego yang merasa tak diajak bicara?
Satu hal yang pasti, bagi masyarakat, yang dinilai bukan siapa yang paling keras bicara, tapi siapa yang hadir saat dibutuhkan. Dan dalam cerita ini, rakyat tampaknya sudah punya kesimpulan sendiri. (mediaviral.co)
















