Surabaya, Jawa Timur – MediaViral.co
Tradisi berubah menjadi ancaman. Fenomena balon udara tanpa awak yang disertai petasan di wilayah Ponorogo kini memicu alarm keras setelah aktivitas tersebut melibatkan banyak pelajar, bahkan dikabarkan telah menimbulkan korban jiwa.
Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Suli Da’im, angkat suara lantang. Ia menilai praktik menerbangkan balon udara liar yang dibekali petasan bukan lagi sekadar tradisi, melainkan telah berubah menjadi aksi berbahaya yang mengancam keselamatan publik.
Menurutnya, fenomena ini semakin memprihatinkan karena banyak pelajar dari tingkat SD hingga SMA ikut terlibat dalam aktivitas yang sarat risiko tersebut.
“Ini bukan lagi permainan. Petasan yang diikatkan pada balon udara dan diterbangkan tanpa kendali bisa jatuh di mana saja. Jika mengenai rumah, jalan, atau warga, dampaknya bisa fatal,” tegas Suli Da’im, Rabu (11/3/2026).
Sebagai anggota Komisi E DPRD Jawa Timur yang membidangi pendidikan dan kepemudaan, ia menilai semua pihak tidak boleh lagi menutup mata. Pemerintah daerah, sekolah, hingga orang tua harus bergerak cepat memberikan edukasi keras kepada pelajar terkait bahaya petasan dan balon udara tanpa awak.
Suli menegaskan bahwa tradisi menerbangkan balon udara memang merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Ponorogo. Namun, ketika tradisi tersebut berubah menjadi aksi liar dengan bahan peledak dan tanpa pengawasan, maka potensi tragedi tidak bisa dihindari.
“Kalau dibiarkan, ini bisa menjadi bom waktu setiap tahun. Tradisi yang seharusnya menjadi kebanggaan budaya justru berubah menjadi sumber petaka,” ujarnya.
Ia juga mendesak adanya koordinasi lebih tegas antara pemerintah daerah, aparat kepolisian, TNI, serta pihak sekolah untuk melakukan pengawasan ketat, terutama menjelang momen-momen ketika tradisi ini sering dilakukan.
Selain itu, Suli mendorong agar tradisi balon udara tetap dilestarikan tetapi diarahkan dalam bentuk kegiatan yang aman dan terkontrol, seperti festival balon udara yang ditambatkan dan diawasi secara resmi.
“Budaya harus dijaga, tetapi keselamatan masyarakat jauh lebih penting. Jangan sampai setiap tahun kita mendengar kabar korban hanya karena balon udara dan petasan,” tandasnya.
Ia pun meminta sekolah tidak hanya fokus pada kegiatan di kelas, tetapi juga aktif mengawasi perilaku pelajar di luar jam sekolah agar tidak terlibat dalam aktivitas berisiko tinggi.
“Ini tanggung jawab bersama. Jika semua pihak diam, maka yang jadi taruhan adalah nyawa anak-anak kita sendiri,” pungkasnya. (mediaviral.co)
















