Sidoarjo, Jawa Timur — MediaViral.co
Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kembali menjadi sorotan. Di tengah riuhnya perdebatan yang kerap memicu gesekan di masyarakat, ratusan jamaah justru menunjukkan kedewasaan dengan memadati Lapangan Panser Sumput, Sidoarjo, untuk menunaikan Salat Idulfitri secara khidmat.
Namun di balik suasana yang damai itu, pesan keras disampaikan oleh Dr. H. Suli Da’im, M.M. Dalam khutbahnya, Anggota DPRD Jawa Timur tersebut secara tegas mengingatkan agar perbedaan tidak dibelokkan menjadi konflik yang merusak persatuan umat.
“Ini bukan soal akidah! Ini wilayah ijtihadiyah. Jangan sampai perbedaan metode justru membuat kita saling menyalahkan,” tegasnya lantang di hadapan jamaah.
Perbedaan yang Terus Berulang, Umat Diuji Kedewasaannya
Fenomena perbedaan awal Ramadan dan Syawal bukan hal baru. Namun, setiap tahun pula polemik yang sama terus berulang—bahkan tak jarang merembet ke media sosial dengan narasi saling serang.
Suli Da’im menyoroti dua pendekatan utama yang selama ini digunakan, yakni rukyat dan hisab. Keduanya, kata dia, bukan metode sembarangan, melainkan memiliki dasar syar’i dan ilmiah yang kuat.
“Rukyat dan hisab itu sama-sama sah. Jangan ada yang merasa paling benar lalu menyalahkan yang lain,” ujarnya.
Agama Tidak Anti Sains
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Islam tidak menutup diri terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan, Al-Qur’an sendiri telah memberi landasan kuat terhadap penggunaan perhitungan dalam menentukan waktu.
Mengutip Surat Yunus ayat 5, Suli menjelaskan bahwa istilah “hisab” menunjukkan sistem perhitungan yang pasti dan terukur.
“Pergerakan matahari dan bulan itu teratur, bisa dihitung secara ilmiah. Ini bukti bahwa Islam itu rasional, bukan sekadar tradisi,” tegasnya.
Kritik Keras: Mimbar dan Medsos Jangan Jadi Arena Adu Ego
Dalam bagian paling tajam khutbahnya, Suli Da’im secara terang-terangan mengkritik fenomena penggunaan mimbar dan media sosial sebagai sarana menyebarkan klaim kebenaran sepihak.
Menurutnya, perbedaan ijtihad seharusnya menjadi kekayaan intelektual umat, bukan bahan bakar konflik.
“Jangan jadikan mimbar dan media sosial sebagai arena adu ego. Ini berbahaya. Umat bisa terpecah hanya karena hal yang seharusnya bisa disikapi dengan dewasa,” ujarnya dengan nada serius.
Saatnya Bersatu, Bukan Dipertentangkan
Di akhir khutbah, Suli mengajak umat Islam untuk melihat Idulfitri sebagai momentum memperkuat ukhuwah, bukan memperlebar jurang perbedaan.
Ia juga menyinggung pentingnya gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal sebagai solusi jangka panjang untuk mengakhiri polemik tahunan.
“Persatuan itu bukan berarti semua harus sama. Tapi bagaimana kita tetap bersaudara di tengah perbedaan,” pungkasnya. (mediaviral.co)
















