Lampung Barat – MediaViral.co
Pernyataan Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, soal dirinya “sedih tapi senyum-senyum” melihat keluhan jalan rusak di TikTok, kini berubah jadi bara kemarahan publik. Aliansi Jurnalis Persada (AJP) Lampung Barat tak lagi sekadar mengkritik—mereka menggugat keras, menuding ada kegagalan empati di pucuk kepemimpinan daerah!
Di saat warga bertaruh nyawa melintasi jalan Sumberjaya–Tebu yang rusak parah dan disebut “jalur tengkorak”, respons santai itu dinilai seperti penghinaan terbuka terhadap penderitaan rakyat.
“Ini Bukan Lelucon, Ini Nyawa!”
AJP menyebut sikap tersebut sebagai bentuk ketidakpekaan yang serius. Keluhan warga di media sosial bukan bahan hiburan, melainkan jeritan frustrasi masyarakat yang ekonominya tercekik akibat akses jalan yang hancur.
“Kalau pemimpin masih bisa tersenyum melihat penderitaan rakyatnya, maka ada yang salah dengan nurani kekuasaan itu sendiri!” tegas AJP dalam pernyataan yang kini viral.
Sindiran makin tajam: rakyat bertanya “di mana Bupati?” bukan karena tak tahu keberadaannya, tapi karena tak pernah merasakan hasil kerjanya—terutama pada jalan yang setiap hari mereka lewati.
Dalih Uang Seret, Tapi Jabatan Lancar?
Alasan klasik soal defisit anggaran kembali diangkat. Namun AJP membongkar sisi lain yang lebih panas: dugaan praktik nepotisme di tubuh birokrasi Pemkab.
Di tengah klaim keuangan daerah “kering”, justru muncul sorotan bahwa kursi-kursi strategis diduga diisi oleh orang-orang dekat kekuasaan.
“Ini bukan lagi soal jalan rusak, tapi soal prioritas yang rusak! Infrastruktur hancur, tapi lingkaran kekuasaan diduga tetap ‘subur’,” sindir AJP tajam.
Tiga “Tamparan Keras” untuk Pemkab
AJP Lampung Barat melancarkan tiga serangan kritik yang tak bisa diabaikan:
Lobi Anggaran Dipertanyakan
Klaim kedekatan dengan DPR RI dan DPRD dianggap omong kosong jika tak mampu mendatangkan dana pusat untuk memperbaiki jalan vital.
Nepotisme Menguat
Penempatan pejabat diminta dibuka terang. AJP mencurigai adanya praktik “bagi-bagi kursi” yang mencederai kepercayaan publik.
Dana Publik Terancam Bocor
AJP memberi peringatan keras akan mengawasi penggunaan dana JKN dan BOK agar tak menjadi lubang baru kebocoran anggaran.
Ultimatum Tanpa Basa-Basi
AJP kini tidak lagi berbicara halus. Mereka menuntut langkah konkret:
Audit total anggaran infrastruktur 2025
Hentikan “drama perasaan” pejabat di ruang publik
Segera perbaiki jalan tanpa menunggu viral
Bersihkan birokrasi dari praktik kedekatan keluarga
“Jangan Tunggu Rakyat Jatuh Satu per Satu!”
Penutup pernyataan AJP terasa seperti peringatan keras:
“Rakyat Lampung Barat tidak butuh pemimpin yang pandai berempati di kata-kata. Mereka butuh bukti di aspal! Jangan tunggu korban berjatuhan baru bergerak!”
Kini sorotan publik tak lagi bisa diredam. Jika tak segera dijawab dengan aksi nyata, krisis jalan ini bisa berubah menjadi krisis kepercayaan yang jauh lebih berbahaya bagi kekuasaan. (mediaviral.co)
















