Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

KINRA “Dermawan” atau Sekadar Pencitraan? Hanya 60 Warga Dibayari BPJS di Tengah Luasnya Kemiskinan Simalungun

28
×

KINRA “Dermawan” atau Sekadar Pencitraan? Hanya 60 Warga Dibayari BPJS di Tengah Luasnya Kemiskinan Simalungun

Sebarkan artikel ini

Simalungun, Sumatera Utara — MediaViral.co

Langkah PT Kawasan Industri Nusantara (KINRA) membayarkan iuran BPJS Kesehatan bagi warga kurang mampu di Kabupaten Simalungun menuai dua sisi: pujian dan tanda tanya besar. Di tengah angka kemiskinan yang masih membayangi, bantuan untuk 60 orang justru memantik kritik—apakah ini kepedulian nyata atau sekadar panggung pencitraan?

Example 300250

Program yang dikemas dalam balutan corporate social responsibility (CSR) ini memang terlihat humanis di permukaan. Penyerahan simbolis yang berlangsung di Kantor Bupati Simalungun pada Rabu (01/04/2026) menjadi momen yang sarat pesan: perusahaan hadir untuk rakyat. Namun, di balik seremoni itu, publik mulai menghitung—berapa sebenarnya dampak yang dirasakan masyarakat luas?

Direktur PT KINRA, Arif Budiman, menyebut program ini sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap warga sekitar kawasan industri. Ia menegaskan komitmen untuk terus menghadirkan program sosial ke depan.

“Ini bentuk tanggung jawab kami agar masyarakat tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan,” ujarnya.

Namun, pernyataan tersebut justru memicu pertanyaan kritis: jika benar ini tanggung jawab sosial, mengapa hanya menyentuh 60 orang? Bagaimana dengan ratusan, bahkan ribuan warga lain yang juga kesulitan membayar iuran BPJS?

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui perwakilannya memberikan apresiasi atas bantuan tersebut. Pemkab berharap langkah ini bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain.

Sayangnya, apresiasi ini dinilai sebagian kalangan terlalu cepat. Di tengah kebutuhan riil masyarakat yang jauh lebih besar, bantuan terbatas seperti ini dianggap belum cukup menjawab persoalan mendasar: akses kesehatan yang merata dan berkelanjutan.

Pengamat sosial bahkan menilai, program seperti ini kerap menjadi “etalase kebaikan” perusahaan tanpa menyentuh akar masalah. Seremonial megah, angka bantuan kecil—kontras yang sulit diabaikan publik.

Masyarakat kini menunggu lebih dari sekadar aksi simbolis. Mereka menuntut langkah konkret, berkelanjutan, dan menyasar lebih luas. Jika tidak, program CSR seperti ini hanya akan menjadi catatan manis di atas kertas tanpa dampak signifikan di lapangan.

KINRA boleh saja tampil sebagai “penolong”, tetapi publik tak lagi mudah terpesona. Di era keterbukaan, yang dibutuhkan bukan sekadar aksi, melainkan bukti nyata yang benar-benar terasa.

(Rijal)

Example 300x375