Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Ketua Kelompok Tani Ben Leung Desa Glumpang Baroh Mendesak Balai Penyuluhan Pertanian Kuala Untuk Input Data Petani Dengan Akurat

18
×

Ketua Kelompok Tani Ben Leung Desa Glumpang Baroh Mendesak Balai Penyuluhan Pertanian Kuala Untuk Input Data Petani Dengan Akurat

Sebarkan artikel ini

BIREUEN/ACEH, KORANPEMBERITAANKORUPSI.ID

14 Juli 2024 – Syamsudin, Ketua Kelompok Tani Ben Leung di Desa Glumpang Baroh, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, mendesak Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kuala untuk melakukan input data petani dengan lebih akurat dan tidak asal-asalan. Pernyataan ini disampaikan setelah terungkapnya kasus Pak Saiman, seorang petani dari desa setempat, yang hanya menerima 75 kg pupuk meskipun membajak sawah seluas 4800 meter persegi.

Example 300x375

Kasus Pak Saiman yang Mengecewakan*

Pak Saiman, seorang petani yang sudah lama menggarap sawah di Desa Glumpang Baroh, baru-baru ini mengalami kekecewaan besar. Dengan luas sawah yang mencapai 4800 meter persegi, ia hanya menerima jatah pupuk sebanyak 75 kg dari BPP Kuala. Jumlah ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pertaniannya, yang tentunya berdampak negatif pada hasil panennya nanti.

“Saya sangat kecewa dengan jumlah pupuk yang saya terima. Sawah saya seluas 4800 meter persegi, tetapi pupuk yang diberikan hanya 75 kg. Ini sangat tidak mencukupi dan tentunya akan mempengaruhi hasil panen saya,” keluh Pak Saiman.

Desakan untuk Data yang Akurat*

Syamsudin menyatakan bahwa kasus seperti yang dialami Pak Saiman bukanlah kasus pertama yang terjadi. Ia menegaskan bahwa input data petani yang dilakukan oleh BPP Kuala harus lebih akurat dan berdasarkan informasi yang benar-benar valid.

“Sebagai Ketua Kelompok Tani, saya sering menerima keluhan dari anggota terkait dengan pembagian pupuk yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini sangat mengecewakan dan merugikan petani. Seharusnya, petugas BPP Kuala Kabupaten Bireuen memastikan bahwa data yang mereka peroleh dan input adalah akurat dan sesuai dengan kondisi di lapangan,” tegas Syamsudin.

Tuntutan kepada BPP Kuala*

Syamsudin menuntut agar BPP Kuala melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem input data petani. Ia mengharapkan adanya peningkatan dalam akurasi data sehingga pembagian pupuk dan bantuan lainnya bisa lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan sebenarnya.

“Kami berharap BPP Kuala bisa memperbaiki sistem input data mereka. Data yang akurat sangat penting untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani. Jika tidak, yang terkena imbasnya adalah kami, para petani, dan Ketua Kelompok Tani yang menjadi tempat pertama kali mereka mengadu,” lanjutnya.

Harapan dan Solusi*

Syamsudin juga menyarankan agar BPP Kuala lebih aktif dalam melakukan verifikasi data di lapangan dan mendengarkan keluhan serta masukan dari petani secara langsung. Dengan begitu, informasi yang diperoleh akan lebih valid dan dapat diandalkan.

“Verifikasi data di lapangan dan mendengarkan langsung keluhan serta masukan dari petani sangat penting. Ini akan membantu BPP Kuala mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi sebenarnya dan kebutuhan masing-masing petani,” tambah Syamsudin.

Kesimpulan*

Kasus Pak Saiman menjadi contoh nyata betapa pentingnya akurasi dalam input data petani. Syamsudin sebagai Ketua Kelompok Tani Ben Leung berharap agar BPP Kuala segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaiki sistem mereka, sehingga kesejahteraan petani bisa lebih terjamin dan hasil panen bisa maksimal.

“Kami berharap ada perubahan yang signifikan dalam waktu dekat. Sebagai petani, kami hanya ingin mendapatkan hak kami secara adil dan sesuai dengan apa yang kami butuhkan untuk bercocok tanam,” tutup Syamsudin dengan harapan. Arizal Mahdi (koranpemberitaankorupsi.id)

Example 300250