Simalungun, Sumatera Utara — MediaViral.co
Insiden dugaan pembacokan terjadi di areal perkebunan Afdelling 3 Kebun Tinjowan, PTPN IV Regional 2. Peristiwa ini melibatkan seorang petugas pengamanan provider dengan seorang terduga pelaku pencurian buah sawit yang kerap disebut sebagai “ninja sawit”. Bentrokan tersebut terjadi ketika petugas melakukan patroli rutin dan memergoki adanya aktivitas mencurigakan di lokasi.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa bentrokan antara kedua pihak berlangsung cepat hingga menyebabkan salah satu korban mengalami luka bacok.
Korban Dievakuasi ke Puskesmas, Didampingi Askep Kebun
Setelah kejadian, korban langsung dievakuasi menuju Puskesmas Ujung Padang untuk mendapatkan perawatan medis. Proses evakuasi dan pendampingan dilakukan langsung oleh Asisten Kepala (Askep) Kebun Tinjowan, Syahrul Saragih, guna memastikan korban memperoleh penanganan secepat mungkin.
Pihak kebun saat ini tengah melakukan pemeriksaan internal dengan mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak yang berada di lokasi kejadian.
Manajemen PTPN IV: Kasus Direkomendasikan Diproses Hukum
Manajer Kebun Tinjowan PTPN IV Regional 2, Abdi Henri Sinaga, menyampaikan bahwa perusahaan dengan tegas menyerahkan penanganan hukum kepada aparat kepolisian.
“Untuk terduga pelaku pencurian sawit dan pelaku penganiayaan terhadap pihak pengamanan, perusahaan telah merekomendasikan agar kasus diproses oleh aparat penegak hukum. Pencurian hasil perkebunan adalah tindak kriminal yang merugikan negara dan BUMN. Penganiayaan juga dapat dijerat dengan pasal 362, 363, dan 364 KUHP,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa seluruh petugas pengamanan wajib bekerja sesuai SOP perusahaan dan tidak dibenarkan melakukan tindakan di luar kewenangan.
Tokoh Masyarakat: Kasus Harus Ditangani Tanpa Kekerasan
Seorang tokoh masyarakat Tinjowan yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut.
“Kami berharap insiden seperti ini tidak terulang lagi. Pencurian sawit memang sudah sering terjadi dan sangat meresahkan. Namun penanganannya harus tetap mengikuti aturan. Kami meminta perusahaan dan aparat hukum bekerja sama menertibkan para pelaku pencurian agar keamanan kampung dan perkebunan tetap terjaga,” ujarnya.
Pemerhati BUMN: Evaluasi Sistem Keamanan Harus Dilakukan
Perwakilan Pemerhati BUMN menilai bahwa insiden ini menunjukkan masih lemahnya sistem keamanan di wilayah perkebunan.
“Kami mengapresiasi langkah cepat perusahaan dalam menangani korban. Namun evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan perlu dilakukan. Maraknya pencurian sawit sering berujung bentrokan, sehingga perlu penegakan hukum yang kuat terhadap para pencuri,” ungkapnya.
Askep Kebun Tinjowan: Perusahaan Menyesalkan Insiden
Asisten Kepala Kebun, Syahrul Saragih, dalam keterangannya menyampaikan:
“Kita sangat menyesalkan insiden ini. Perusahaan sedang mengumpulkan keterangan lengkap dan memastikan korban mendapat perawatan. Kita berharap situasi segera kondusif dan tindakan pencurian yang memicu konflik dapat ditindak tegas oleh aparat hukum.”
Insiden ini menjadi perhatian publik karena berkaitan dengan keamanan aset negara dan keselamatan petugas di lapangan. Pihak perusahaan dan masyarakat berharap agar penegakan hukum dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah bentrokan serupa di masa mendatang.
(Rijal / mediaviral.co)
















