KEDIRI/JAWA TIMUR, KORANPEMBERITAANKORUPSI.ID
Oleh ; Lisa Dewi Sapitri.
Hingar bingar genderang pemilihan Kepala Daerah Bupati dan Walikota ditabuh di seluruh wilayah Tak Terkecuali Kota Dan Kabupaten Kediri Jawa Timur.
Instrumen-instrumen yang dapat dipakai sebagai alat analisis pada lapangan kualitatif, antara lain; investasi sosial seorang Calon Bupati dan Walikota, track-record calon , jaringan sosial seseorang, kapasitas kolektif dan individu, serta pengalaman sosial.
Bagaimana mereka memperoleh investasi sosial? Dokumen apa yang digunakan untuk membuka record kehidupan orang yang akan berkontestasi menjadi Anggota Dewan ? dan jaringan seperti apa yang dibutuhkan untuk memperkenalkan diri sang calon kepada publik? Gabungan dari ketiga indiktor ini yang disebut secara kualitatif sebagai pengalaman sosial.
Anggaran yang dikeluarkan untuk kontestasi tentunya tidak sedikit.Tentu masyarakat harus paham dan tahu karena hakikatnya itu dari uang rakyat pula. Maka dari itu masyarakat harus cerdas memilih jangan asal pilih, karena nasib kemajuan ada di tangan masyarakat dalam menentukan pilihan.
Menurut Mata Sosial, pilihlah calon Kepala Daerah yang mengerti, yang memahami, yang ingin memajukan dengan konsep musyawarah dan selalu terbuka untuk setiap masukan, kritikan, dalam membangun yang berbasis kerakyatan. Jangan sampai salah pilih.
Selain itu kecerdasan membangun wawasan dan meningkatkan kualitas pemahaman warganya sangat diperlukan dalam membenahi dan memajukan daerah juga Kecerdasan emosional caleg,agar tidak salah dan terjerumus dalam kekuasaan yang hanya sementara. Dengan mempunyai kecerdasan emosional yang mumpuni, maka akan tidak kelihatan memperkaya diri dalam setiap menangani dan membenahi permasalahan-permasalahan di wilayah masing-masing.
Jangan sampai nyalon hanya untuk meningkatkan ‘kekayaan pribadi’ dari hasil hasil utak atik dan penyelewengan anggaran dari pemerintah dan ‘mencekik’ serta membodohi warganya.
Oknum-oknum seperti ini jangan sampai dipilih. Sebagai masyarakat yang milenial harus banyak buka dan baca-baca referensi tentang kasus-kasus korupsi di media online atau cetak yang kebenaran beritanya bisa dipertanggung jawabkan secara hukum dan moral.
Dari referensi berita-berita itu bisa jadi acuan untuk bahan pertimbangan dan memberikan pemahaman-pemahaman kepada sanak saudara untuk menambah wawasan dan lebih cerdas dalam memilih calon. Selain itu kita harus bisa menilai secara objektif dari setiap calon, harus bisa lebih mengenali secara track record kinerjanya di wilayah masing-masing.
Kalau mencalonkan hanya untuk memperkaya keluarganya, mendingan jadi pemborong atau pengusaha. Jelas itu lebih elegan dan lebih berwibawa ketimbang jadi maling uang negara.
Jangan terkecoh tampilan dan mulut manis,Carilah calon yang bisa mengembangkan serta memajukan dengan potensi-potensi yang ada baik dari sisi Sumber Daya Alam (SDA) atau Sumber Daya Manusia (SDM) di masing-masing. Yang benar-benar siap mengabdi serta punya solusi untuk bersama-sama membangun dalam segala bidang yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan kemajuan,Jangan hanya menguntungkan kroco – kroconya. (koranpemberitaankorupsi.id)
















