Karawang, Jawa Barat – MediaViral.co
Situasi mencekam dialami Ketua DPC Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Karawang, DJ Kopi. Ia nyaris menjadi korban intimidasi setelah diduga dikejar dua pria tak dikenal saat melakukan investigasi dugaan pengoplosan gas LPG subsidi di Kabupaten Karawang, Sabtu (17/1/2026).
Peristiwa itu terjadi ketika DJ Kopi tengah mengambil gambar sebuah gudang yang dicurigai menjadi lokasi praktik ilegal pengoplosan gas LPG. Namun, belum lama ia mendokumentasikan lokasi tersebut, suasana mendadak berubah tegang.
“Tiba-tiba dua orang pria mengendarai sepeda motor datang dengan kecepatan tinggi dan langsung mengejar saya tanpa penjelasan apa pun,” ujar DJ Kopi kepada awak media usai kejadian.
DJ mengungkapkan, kedatangannya ke lokasi semata-mata untuk menindaklanjuti laporan warga yang resah atas keberadaan gudang tersebut. Ia berniat mengumpulkan data lapangan guna menyusun laporan yang akurat dan berimbang.
“Saya menerima pengaduan dari warga sekitar yang menduga gudang itu digunakan untuk pengoplosan gas LPG subsidi. Sebagai pewarta warga, saya merasa perlu melihat langsung kondisi di lapangan,” jelasnya.
Namun, kehadirannya diduga telah terpantau. Dua pria tersebut terus membuntutinya dengan jarak dekat, membuat situasi semakin mengkhawatirkan. Merasa keselamatannya terancam, DJ Kopi memilih segera meninggalkan lokasi. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan di jalan sekitar gudang.
“Saat itu saya hanya fokus menyelamatkan diri. Mereka terus mengikuti dari belakang dengan kecepatan tinggi,” ungkapnya dengan nada masih terlihat trauma.
Dalam kondisi panik, DJ melihat sebuah pabrik tak jauh dari lokasi kejadian. Ia berlari masuk ke area pabrik dan meminta pertolongan kepada petugas keamanan. Sekuriti pabrik kemudian mengamankannya hingga situasi di luar dinyatakan aman.
“Saya sangat bersyukur ada petugas keamanan yang sigap menolong. Jika tidak, saya tidak tahu apa yang bisa terjadi,” tuturnya.
DJ Kopi menilai peristiwa tersebut merupakan bentuk intimidasi terhadap kerja-kerja investigasi pewarta warga. Menurutnya, dugaan pengoplosan gas LPG bukan perkara sepele karena menyangkut keselamatan masyarakat dan berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi negara.
“Gas LPG oplosan sangat berbahaya karena tidak sesuai standar keselamatan dan bisa meledak kapan saja. Kami hanya menjalankan fungsi kontrol sosial demi kepentingan publik,” tegasnya.
Ia pun mendesak aparat penegak hukum untuk segera turun tangan mengusut dugaan praktik pengoplosan gas LPG di Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang. Selain itu, ia meminta jaminan perlindungan bagi jurnalis dan pewarta warga yang bekerja di lapangan.
“Kami meminta kasus ini ditangani secara serius dan tidak ada lagi intimidasi terhadap jurnalis maupun pewarta warga yang menjalankan tugasnya,” pungkas DJ Kopi.
(Tim)
















