Takengon, Aceh — MediaViral.co
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda hampir seluruh wilayah Kabupaten Aceh Tengah sejak Selasa malam (25/11/2025) memaksa ribuan warga mengungsi dan menimbulkan dampak kerusakan yang luas. Cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu meluapnya aliran sungai serta longsoran material dari kawasan perbukitan.
Di tengah situasi darurat tersebut, Polres Aceh Tengah bersama Polsek jajaran bergerak cepat melakukan aksi tanggap bencana. Tim gabungan Kepolisian turun langsung mengevakuasi warga dari sejumlah desa terdampak paling parah, termasuk Kampung Paya Reje, Temi Delem, Mendale, Jongok, dan Paya Tumpi di Kecamatan Kebayakan.
Pada Kamis (27/11/2025), personel Polres Aceh Tengah bersama Polsek Kota Takengon membuka jalur, mengevakuasi warga yang terjebak lumpur dan genangan banjir, serta membantu mengamankan dokumen-dokumen penting milik masyarakat. Evakuasi dilakukan menggunakan perahu karet, kendaraan taktis, hingga pengangkutan manual karena sebagian akses tidak dapat dilalui.
14 Kecamatan Terdampak, Kabupaten Nyaris Lumpuh
Data sementara yang dihimpun hingga Sabtu (29/11/2025) menunjukkan skala dampak bencana yang sangat besar:
18 orang meninggal dunia,
ratusan rumah rusak atau tertimbun material longsor,
puluhan jembatan rusak dan putus,
ratusan hektare sawah dan kebun hancur,
ratusan titik jalan amblas atau terisolasi.
Sebanyak 14 kecamatan terdampak, meliputi: Bebesen, Bies, Bintang, Celala, Kebayakan, Ketol, Kute Panang, Linge, Lut Tawar, Pegasing, Silih Nara, Rusip Antara, Atu Lintang, dan Jagong Jeget.
Dampak terparah dialami kawasan Kecamatan Bintang yang mencatat lebih dari 2.000 kepala keluarga mengungsi, menjadikannya wilayah dengan jumlah korban terdampak terbesar. Pemerintah mencatat total 3.400 warga mengungsi ke masjid, meunasah, gedung serbaguna, sekolah, dan beberapa posko darurat lain.
Selain permukiman, fasilitas umum seperti sekolah, drainase, sarana air bersih, hingga jembatan penghubung antar desa mengalami kerusakan berat. Kondisi ini membuat Kabupaten Aceh Tengah sempat terisolasi dari jalur utama ke Bireuen, Gayo Lues, dan Nagan Raya.
Krisis juga terjadi akibat kelangkaan logistik, termasuk bahan pokok, BBM, air bersih, hingga padamnya listrik PLN dan gangguan jaringan internet di banyak wilayah.
Polres Aceh Tengah Dirikan Posko Layanan dan Bantu Dapur Umum
Tidak hanya melakukan evakuasi, jajaran Polres Aceh Tengah juga mendirikan posko pelayanan dan membantu dapur umum di lokasi pengungsian. Salah satu posko terbesar berada di Masjid Al-Abrar, Kecamatan Kebayakan, tempat ratusan warga ditampung.
Personel Polri bersama Polwan disiagakan untuk:
membantu memasak dan menyalurkan makanan siap saji,
menghibur anak-anak dan warga yang mengalami trauma,
membersihkan rumah penduduk yang terdampak lumpur,
menjaga keamanan barang milik warga di lokasi rawan.
Kegiatan ini dilakukan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BPBD, TNI, relawan, dan organisasi kemanusiaan.
Kapolres: “Pembukaan akses jalan prioritas utama”
Kapolres Aceh Tengah, AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa seluruh jajaran Polres dalam status siaga penuh menghadapi kondisi darurat bencana.
“Kami terus hadir melakukan penanganan dan evakuasi bersama Pemerintah Daerah, BPBD, TNI, serta seluruh stakeholder terkait. Pendataan korban jiwa dan kerusakan material terus dilakukan, dan pembukaan akses jalan menjadi prioritas agar distribusi bantuan dapat segera dipercepat,” jelas Kapolres.
Ia menambahkan, seluruh Polsek telah diminta untuk memperkuat patroli, melakukan pemetaan wilayah berisiko, serta memastikan keamanan di kawasan rumah yang ditinggalkan warga saat mengungsi.
Pascabencana: Pemulihan Bertahap dan Fokus Psikososial
Polres Aceh Tengah bersama pemerintah daerah juga tengah menyusun langkah pemulihan jangka menengah, termasuk normalisasi akses jalan, penyaluran logistik lanjutan, serta pendampingan psikososial bagi warga terdampak.
Tim kesehatan dari kepolisian turut diterjunkan untuk memeriksa warga, terutama anak-anak dan lansia, guna mencegah penyakit kulit, diare, dan infeksi saluran pernafasan yang sering muncul pada kondisi lingkungan basah dan kumuh pascabencana.
Dengan skala kerusakan yang luas, proses pemulihan di Aceh Tengah diperkirakan memerlukan waktu yang tidak singkat. Namun pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan berbagai pihak termasuk TNI–Polri terus dikerahkan untuk mempercepat proses normalisasi.
Report by Chandra — 29 November 2025
Korespondensi Humas Polres Aceh Tengah
















