Simalungun, Sumatera Utara – MediaViral.co
PTPN IV Regional 2 kembali menggelar Tanam Perdana Program Ketahanan Pangan Jagung di areal Kebun Bukit 5, Kecamatan Bosar Maligas, Jumat (21/11/2025). Kegiatan yang diklaim sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional ini dihadiri manajemen PTPN IV, unsur Polri, Muspika, perangkat nagori, serta kelompok tani. Namun di balik kemeriahan seremoni, muncul pertanyaan besar dari masyarakat: Apakah program ini benar-benar memberikan manfaat atau sekadar agenda tahunan yang tidak pernah dievaluasi secara serius?
Sinergi PTPN IV–Polri Dipuji, Tapi Publik Meminta Hasil Nyata
Manager Bukit 5 PTPN IV Regional 2, JM.M. Lahagu, bersama Plh Lidya F. Ginting, hadir dalam kegiatan ini. Dari Kepolisian hadir Iptu J. Tarigan mewakili Kapolsek Bosar Maligas. Kolaborasi BUMN dan aparat keamanan patut diapresiasi, namun masyarakat meminta sinergi ini tidak berhenti pada simbolis, melainkan memastikan pengamanan lahan, pendampingan petani, dan transparansi anggaran benar-benar berjalan.
Sebab, beberapa program pangan di daerah pernah menuai kritik karena:
lemahnya monitoring produksi,
hasil panen tidak terserap pasar,
bantuan teknis berhenti setelah seremoni,
hingga penggunaan lahan yang tidak sesuai target.
Publik menegaskan bahwa PTPN IV harus memastikan program ini bukan proyek formalitas.
Petani Hadir, Tapi Butuh Komitmen—Bukan Foto-Foto
Kelompok Tani Tunas Baru Nagori Marihat Mayang yang dipimpin Sopian Manurung, serta perwakilan HKTI Simalungun Tugiman, SE, hadir dalam kegiatan ini. Mereka menegaskan bahwa petani butuh kepastian pendampingan jangka panjang, bukan hanya pembagian bibit lalu ditinggalkan mengurus sendiri.
Beberapa petani bahkan menyampaikan bahwa program sejenis seringkali meninggalkan masalah:
bibit tidak sesuai standar,
tidak ada pendampingan teknis lanjutan,
tidak ada jaminan pembelian hasil panen,
dan risiko gagal panen sepenuhnya dibebankan kepada petani.
Jika pola lama kembali terjadi, program ini dikhawatirkan hanya menjadi event pencitraan.
Doa Bersama dan Pembagian kepada Anak Yatim: Humanis, Tetapi Publik Mau Transparansi
Acara dibuka dengan doa bersama yang dipimpin guru agama Harianto, diikuti Pangulu Marihat Tanjung dan Pangulu Marihat Mayang. Kehadiran anak yatim menambah sisi humanis acara. Namun masyarakat menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak cukup dengan seremoni emosional, melainkan data, kepastian, dan akuntabilitas.
Program Strategis atau Sekadar Menghabiskan Anggaran?
Program ketahanan pangan jagung ini disebut sebagai langkah strategis PTPN IV dan Polri. Tetapi beberapa hal masih menjadi sorotan dan membutuhkan jawaban:
- Target produksi jagung apakah realistis?
- Berapa luas lahan efektif yang benar-benar ditanami?
- Siapa yang memonitor keberlanjutan program setelah tanam perdana?
- Apakah ada evaluasi program tahun-tahun sebelumnya?
- Bagaimana mekanisme pembagian keuntungan dengan petani?
Tanpa jawaban yang jelas, program ini rawan dianggap sebagai agenda formalitas yang hanya bagus di atas kertas.
Masyarakat Desak PTPN IV Hadir di Lapangan, Bukan Hanya di Acara Seremoni
Kegiatan berlangsung lancar, tetapi masyarakat Simalungun menilai PTPN IV harus:
membuka data program secara transparan,
melibatkan petani dalam penyusunan rencana produksi,
memberikan pendampingan hingga masa panen,
memastikan hasil panen dibeli dengan harga yang layak.
Bila tidak, maka hilirisasi pangan yang digembar-gemborkan hanya menjadi jargon tanpa dampak signifikan bagi kesejahteraan petani.
Kesimpulan: Program Baik, Tapi Pengawasan Publik Lebih Penting
Program ketahanan pangan ini pada prinsipnya baik, tetapi masyarakat meminta pengawasan melekat dari Polri, pemerintah daerah, kelompok tani, hingga media. Tujuannya jelas: memastikan program benar-benar memberi hasil, bukan hanya menjadi seremonial rutin yang setiap tahun tampil dengan narasi yang sama namun tanpa kemajuan nyata.
(Rijal)
















