Ponorogo, Jawa Timur – MediaViral.co
Suasana Dukuh Duwet, Desa Bancar, Sabtu (14/3/2026), mendadak “panas”. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo, Pamuji, S.Pd, turun langsung ke kampung dan menggelar sosialisasi bertema berat: “Fungsi Partai Politik pada Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif dalam Sistem Pemerintahan Indonesia.”
Bukan sekadar temu warga biasa. Ratusan peserta—didominasi ibu-ibu jamaah yasin dari lima RT—memadati lokasi. Politik yang biasanya terdengar jauh dan rumit, kini dibawa langsung ke tengah kampung.
Kepala Desa Bancar, Agus Sudarmono, SP, beserta perangkat desa tampak hadir. Kehadiran mereka seolah menegaskan satu pesan: sinergi desa dan legislatif sedang dipertontonkan di depan publik.
Dalam paparannya, Pamuji berbicara lugas. Ia menekankan bahwa partai politik bukan sekadar kendaraan menuju kursi kekuasaan, tetapi juga jembatan aspirasi rakyat.
“Kalau masyarakat tidak paham hak politiknya, maka suara rakyat bisa hilang di tengah jalan,” tegasnya di hadapan warga.
Pernyataan itu seolah menjadi alarm keras. Di tengah dinamika politik yang kerap memicu kekecewaan publik, ajakan untuk “melek politik” terasa seperti dorongan agar warga tak lagi sekadar jadi penonton lima tahunan.
Tak sedikit warga terlihat serius menyimak. Beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama pun hadir, memperkuat kesan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan panggung edukasi politik di akar rumput.
Menjelang berbuka, suasana berubah lebih religius. Tausyiah disampaikan oleh Ustadz KH. Imam Mubasyir, yang menekankan pentingnya ukhuwah dan persatuan. Pesan moral ini seakan menjadi penyeimbang di tengah pembahasan soal kekuasaan dan sistem pemerintahan.
Acara ditutup dengan buka puasa bersama—momen yang bukan hanya soal kebersamaan, tetapi juga simbol kedekatan antara wakil rakyat dan konstituen.
Namun satu pertanyaan mengemuka: apakah sosialisasi seperti ini benar-benar mampu membangkitkan kesadaran politik warga hingga berani bersuara lebih lantang? Ataukah ini hanya bagian dari rutinitas politik yang datang dan pergi?
Yang jelas, di Dukuh Duwet, politik tak lagi terdengar jauh. Ia hadir, duduk bersama warga, dan mulai dibicarakan secara terbuka. (mediaviral.co)
















