Ponorogo, Jawa Timur – MediaViral.co
Oleh: Suprayitno
(Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Universitas Muhammadiyah Ponorogo)
Dosen Pengampu: Dr. Sri Hartono, SE., MM
Kabupaten Ponorogo mulai menapaki langkah strategis dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional melalui pengembangan pertanian koro pedang sebagai alternatif pangan lokal. Inisiatif ini dijalankan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok tani di wilayah pinggiran hutan, melalui pendampingan intensif dan penguatan kelembagaan petani.
Koro pedang merupakan tanaman pangan lokal yang memiliki kandungan protein tinggi, adaptif terhadap kondisi lahan marginal, serta relatif tahan terhadap perubahan iklim. Di Ponorogo, komoditas ini mulai dibudidayakan di sejumlah kecamatan yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan, dengan menerapkan sistem agroforestri yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pengembangan koro pedang tidak hanya berfokus pada aspek teknis budidaya, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani. Pendampingan dilakukan melalui pembentukan dan penguatan kelompok tani, pelatihan teknik budidaya, manajemen usaha tani berbasis kelompok, hingga penguatan akses pasar.
Pendamping kelompok tani, Suprayitno, menilai koro pedang memiliki potensi besar untuk menjadi komoditas unggulan daerah.
“Tanaman ini relatif mudah dibudidayakan, tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem, dan cocok dikembangkan di lahan marginal atau pinggiran hutan. Yang terpenting adalah membangun kelembagaan petani secara bersama-sama agar mereka mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui pendekatan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), petani dibekali kemampuan dalam pembagian kerja kelompok, perencanaan produksi, hingga pengelolaan hasil panen. Penguatan organisasi kelompok tani dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pemasaran.
Pemerintah Kabupaten Ponorogo turut memberikan dukungan terhadap program ini sebagai bagian dari kebijakan diversifikasi pangan dan penguatan ekonomi desa. Selain dipasarkan dalam bentuk bahan pangan mentah, hasil panen koro pedang kini mulai diolah menjadi produk turunan bernilai tambah, seperti tepung koro, tempe koro, tahu susu kedelai, dan abon, yang memiliki prospek pasar cukup menjanjikan.
Dari sisi sosial, program budidaya koro pedang memberikan dampak positif bagi masyarakat pinggiran hutan yang selama ini memiliki keterbatasan akses ekonomi. Melalui keterlibatan aktif dalam kelompok tani, masyarakat memperoleh sumber pendapatan baru tanpa harus merusak kelestarian hutan.
Pengembangan pertanian koro pedang di Ponorogo menjadi contoh nyata bahwa kedaulatan pangan dapat dibangun dari daerah, melalui pemanfaatan potensi lokal, penguatan kelembagaan petani, serta kolaborasi antara masyarakat, pendamping lapangan, dan pemerintah daerah. Inisiatif ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain sebagai salah satu solusi ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan. (mediaviral.co)
















