Lampung Utara – MediaViral.co
Fenomena memalukan tengah menjadi sorotan di Kabupaten Lampung Utara. Sejumlah pejabat dan aparat penegak hukum (APH) dinilai sudah jauh menyimpang dari amanah rakyat. Bukannya melayani, mereka justru bertingkah layaknya raja, sementara rakyat yang membayar gaji mereka diperlakukan seperti sampah.
Dugaan praktik korupsi kian menegaskan wajah asli pejabat daerah ini. Uang negara dianggap milik pribadi, seakan harta warisan nenek moyang. Pejabat menikmati fasilitas, kendaraan mewah, dan rumah megah dari hasil merampok uang rakyat.
Ironisnya, oknum APH yang semestinya menjadi garda hukum justru terkesan ikut bermain. Mereka bertindak sewenang-wenang, gagah berani di depan rakyat, namun lemah di hadapan para koruptor. Bahkan suara kritis masyarakat kerap direspons dengan amarah, intimidasi, hingga ancaman hukum.
“Pejabat dan aparat itu digaji dari uang rakyat. Tapi gaya mereka seperti raja. Kalau dikritik, marah. Kalau dipanggil rakyat, mereka justru balik bertanya: ‘Siapa kamu berani memerintah?’ Ini mental penjajah, bukan pelayan publik,” tegas seorang warga dengan nada tinggi.
Masyarakat Lampung Utara kini menilai pejabat dan APH yang arogan bukanlah pelindung rakyat, melainkan bagian dari masalah besar. Mereka digaji rakyat, tapi justru melawan rakyat. Tak heran, banyak yang menyebut para pejabat dan aparat arogan itu sebagai “sampah masyarakat” yang sesungguhnya. (***)
















