Palembang – MediaViral.co
Keyakinan bahwa Kota Palembang merupakan salah satu wilayah paling aman dari bencana alam di Indonesia terus hidup dalam ingatan sejarah dan tradisi masyarakatnya. Pandangan tersebut berakar panjang sejak masa kerajaan besar Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang Darussalam, ketika leluhur melakukan perhitungan alam yang mendalam untuk menentukan pusat pemerintahan.
Menurut tradisi lisan para keturunan bangsawan Palembang, nenek moyang pada masa kerajaan tidak pernah menentukan lokasi ibu kota secara sembarangan. Para ahli perbintangan, pemuka adat, serta tokoh spiritual melakukan perjalanan panjang untuk mencari tempat yang diyakini paling stabil dan aman dari bencana besar. Pencarian itu mempertimbangkan kondisi tanah, aliran air, arah angin, hingga tanda-tanda kosmologis yang diyakini membawa petunjuk.
Hasil dari perhitungan leluhur tersebut mengarah pada wilayah Palembang, yang dinilai sebagai daerah dengan stabilitas alam cukup tinggi. Berada di dataran rendah dan diapit Sungai Musi, Palembang jauh dari gunung berapi aktif, memiliki potensi gempa besar yang rendah, serta tidak berada di jalur tsunami. Meskipun banjir lokal tetap terjadi dalam skala musiman, kota ini tercatat jarang mengalami bencana besar yang mengancam keberlanjutan kehidupan penduduknya.
Keyakinan ini kemudian diteruskan oleh para keturunan bangsawan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang. Mereka meyakini bahwa selain faktor geografis, perlindungan Ilahi turut menjaga kota ini, seiring doa yang terus dipanjatkan oleh para leluhur agar Palembang dijauhkan dari malapetaka. Hingga kini, tradisi mendoakan keselamatan kota masih dipelihara oleh keturunan bangsawan serta masyarakat yang menjaga warisan budaya tersebut.
“Leluhur kami memilih Palembang melalui perhitungan yang panjang dan penuh pertimbangan. Mereka melihat tanda alam, membaca arah kehidupan, lalu memohon perlindungan kepada Yang Maha Kuasa. Doa itu terus kami jaga sampai sekarang,” ujar salah satu tokoh keturunan bangsawan Melayu Palembang.
Sebagai pusat peradaban Melayu kuno dan tempat berdirinya kerajaan maritim besar Sriwijaya, Palembang memiliki hubungan budaya yang erat dengan masyarakat Melayu di berbagai daerah, termasuk Semenanjung Malaya. Karena itulah ajakan untuk mendoakan keselamatan Palembang juga sering disampaikan kepada seluruh masyarakat rumpun Melayu sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah bersama.
Para pemerhati budaya menyebutkan bahwa keyakinan ini merupakan bagian dari identitas masyarakat Palembang—warisan kearifan leluhur mengenai pengetahuan alam, sejarah, dan spiritualitas. Di tengah meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim global, keyakinan tersebut mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga alam dan lingkungan yang menjadi fondasi ketenteraman kota.
Dengan perpaduan antara warisan sejarah, tradisi doa, serta kesadaran menjaga alam, masyarakat berharap Palembang tetap menjadi kota yang aman, tenteram, dan diberkahi, sebagaimana yang diyakini sejak masa kejayaan kerajaan Melayu ribuan tahun silam.
















