OKU Timur, Sumatera Selatan – MediaViral.co
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur sejak semalaman memicu banjir besar di sejumlah kecamatan. Kecamatan Belitang III menjadi wilayah yang terdampak paling parah, dengan banjir disebut sebagai yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Banjir yang terjadi pada awal 2026 ini tidak hanya merendam lahan pertanian, tetapi juga masuk ke rumah-rumah warga. Sejumlah perabotan rumah tangga hingga barang berharga dilaporkan rusak dan hanyut terbawa arus.
Warga setempat menyebut karakter banjir tahun ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski Belitang III dikenal sebagai daerah langganan banjir saat musim hujan, ketinggian air dan lamanya genangan kali ini dinilai tidak wajar.
“Biasanya air hanya sampai teras rumah dan cepat surut, kurang dari dua jam. Tapi banjir kali ini sudah masuk rumah sejak pukul empat pagi dan sampai siang belum juga surut,” ujar salah satu warga terdampak.
Desa-desa yang dilaporkan mengalami dampak paling parah di Kecamatan Belitang III antara lain Desa Nusa Jaya, Nusa Tenggara, Karang Jadi, Nusa Bali, Ringin Sari, Dadi Rejo, Suka Negara, dan Nusa Maju.
Selain itu, banjir juga melanda kecamatan lain seperti Belitang Mulya dan Semendawai Suku III.
Warga menduga parahnya banjir tahun ini tidak semata disebabkan oleh curah hujan tinggi, melainkan juga akibat alih fungsi lahan secara masif. Banyak kebun karet milik warga yang sebelumnya dipenuhi pepohonan kini berubah menjadi kebun tebu.
Tak hanya itu, ratusan hektare lahan cetak sawah baru dikembangkan di wilayah Belitang III, ditambah pembukaan lahan sawah secara mandiri oleh petani. Perubahan ini dinilai mengurangi daya serap tanah dan mengacaukan sistem tata kelola air.
Lahan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan kini berubah menjadi hamparan terbuka, sementara pembangunan infrastruktur drainase dan irigasi tidak dilakukan secara berimbang.
Secara regulasi, alih fungsi lahan tidak dapat dilakukan sembarangan. Setiap perubahan peruntukan lahan wajib mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) serta kajian teknis lingkungan. Jika dilakukan tanpa perencanaan matang, dampaknya dapat memicu kerusakan lingkungan serius, termasuk meningkatnya risiko banjir.
Tak berhenti di situ, warga juga mengaitkan maraknya alih fungsi lahan dengan meningkatnya kejadian angin puting beliung di wilayah Belitang III. Hilangnya pepohonan sebagai penahan angin alami membuat kawasan persawahan terbuka semakin rentan terhadap cuaca ekstrem.
Kondisi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan pemangku kebijakan. Pembangunan sektor pertanian yang tidak dibarengi dengan perencanaan lingkungan, pengendalian alih fungsi lahan, serta penataan drainase yang memadai dikhawatirkan akan membuat Belitang III terus terjebak dalam siklus banjir dan bencana alam yang berulang setiap tahun.
mediaviral.co
















