Tulang Bawang, Lampung – MediaViral.co
Selasa (23/09/2025)
Gelombang keresahan kini melanda insan pers di Kabupaten Tulangbawang. Kebijakan terbaru Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang dituangkan dalam Surat Edaran (SE) justru menimbulkan polemik dan rasa ketidakadilan di kalangan jurnalis serta organisasi media.
Program kemitraan media yang seharusnya menjadi bentuk dukungan pemerintah daerah, kini dipertanyakan transparansinya. Di tengah kondisi keuangan daerah yang serba sulit, desas-desus pencairan dana kepada sejumlah media—bahkan yang belum terverifikasi Dewan Pers—kian memantik kekecewaan.
Media Lokal Merasa Diabaikan
Sejumlah jurnalis mengaku tidak lagi sanggup bertahan akibat kebijakan tersebut. Seorang wartawan media online berinisial S menuturkan banyak rekan seprofesinya terpaksa banting setir demi bertahan hidup.
“Banyak teman-teman yang pulang kampung, ada yang jualan cilok, jadi tukang kusen, bahkan ada yang nekat kembali berbuat hal negatif. Lebih tragis, ada rekan yang terkena stroke karena stres memikirkan nasib akibat kebijakan ini,” ujarnya lirih.
Tak hanya itu, sumber lain yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan adanya media berstatus PT Perorangan yang justru mendapatkan kucuran dana kemitraan. Padahal, secara aturan hal tersebut menyalahi regulasi yang selalu dijadikan acuan oleh pihak Kominfo.
Tamparan Bagi Pemerintah Daerah
Kondisi ini menjadi sorotan tajam publik terhadap pemerintahan Bupati Qudrotul Ikhwan dan Wakil Bupati Hamka. Di tengah isu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang masih membayangi, kebijakan Kominfo dianggap memperpanjang daftar ketidakadilan dalam pengelolaan anggaran.
“Jangan sampai kami, insan pers di Tulangbawang, dijadikan korban atas kebijakan yang cacat dan diskriminatif ini,” tegas salah satu sumber.
Kominfo Masih Bungkam
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Kominfo Tulangbawang belum memberikan keterangan resmi. Diamnya pihak Kominfo hanya memperlebar jurang antara pemerintah daerah dan insan pers yang seharusnya berjalan berdampingan sebagai mitra pembangunan.
Kini, pers Tulangbawang berada pada titik kritis: bertahan dengan segala keterbatasan atau menyerah pada ketidakadilan yang semakin nyata. (*)
















