Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Di Balik Tanam Perdana Jagung PTPN IV: 321 Hektar Ditutup, 50 Hektar Ditabur—Program Ketahanan Pangan atau Sekadar Seremonial Menutup Masalah?

61
×

Di Balik Tanam Perdana Jagung PTPN IV: 321 Hektar Ditutup, 50 Hektar Ditabur—Program Ketahanan Pangan atau Sekadar Seremonial Menutup Masalah?

Sebarkan artikel ini

Simalungun – Sumatera Utara | MediaViral.co

PTPN IV Regional 2 kembali menggelar seremoni besar: tutup tanam T.U seluas 321 hektar dan tanam perdana jagung 50 hektar di Afdeling 6 Kebun Bukit 5, Jumat (21/11/2025). Seremonial terlihat mulus, pejabat lengkap, spanduk rapi, publikasi berjalan. Namun di lapangan, sejumlah tanda tanya besar muncul dan tak bisa diabaikan.

Example 300250

Apakah ini langkah nyata mendukung ketahanan pangan nasional, atau sekadar pengalihan isu atas tumpukan lahan tidur dan buruknya produksi sebelumnya?


Lahan Tidur 321 Hektar Ditutup—Namun Publik Tak Pernah Lihat Laporan Produksinya

General Manager Regional 2 Distrik 1, M Lahagu, menegaskan setiap areal harus produktif.

“Setiap areal yang dikelola harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan mendukung ketahanan pangan nasional.”

Pernyataan ideal—namun publik menuntut data konkret, bukan slogan.
Sebab:

Berapa tahun lahan itu dibiarkan idle?

Kenapa bisa mencapai ratusan hektar?

Apa penyebab mandegnya produktivitas sebelumnya?

Siapa pihak yang bertanggung jawab atas ketidakmaksimalan lahan itu?

Tanpa menjawab pertanyaan dasar ini, tutup tanam terkesan sebagai upaya menambal citra, bukan memperbaiki manajemen.


50 Hektar Jagung: Program Ketahanan Pangan atau Proyek Seremonial Berulang?

PTPN IV menggembar-gemborkan tanam perdana jagung. Namun pertanyaan investigatifnya:

Berapa persen dari program jagung sebelumnya yang berhasil panen?

Berapa ton hasil yang benar-benar masuk ke rantai pangan?

Berapa program jagung yang pernah gagal, tetapi tidak pernah dipublikasikan?

Tanpa transparansi output, tanam perdana hanya menjadi event rutin yang diulang-ulang tiap tahun.


Kelompok Tani Tunas Baru Dilibatkan—Tapi Bagaimana Skema Kerja Sebenarnya? Transparankah?

Plh Manager Kebun, Lidya F. Ginting, mengatakan kerja sama dengan kelompok tani memastikan program tepat sasaran.

“Kerja sama dengan kelompok tani memastikan program tepat sasaran dan memberikan dampak ekonomi.”

Namun sumber internal di beberapa kebun PTPN (yang tidak ingin disebutkan namanya) sering menyebutkan bahwa:

kelompok tani hanya dilibatkan di hari acara,

lahan dikelola internal tanpa pendampingan menyeluruh,

pembagian hasil tidak selalu jelas,

petani hanya menjadi perantara simbolis.

Apakah itu juga terjadi di Bukit 5?
Publik berhak tahu mekanismenya secara rinci.


Hadirnya Pejabat, Aparat, hingga HKTI: Lengkap, Tapi Kontradiktif Dengan Realita Lahan

Memang, acara dihadiri jajaran lengkap:

Askep Bukit 5,

para Asisten Afdeling,

Aiptu J. Tarigan dari Polsek Bosar Maligas,

para pangulu, Muspika-Muspida,

hingga Pengurus HKTI Simalungun.

Kehadiran mereka membuat acara tampak megah. Tetapi hal ini justru memunculkan pertanyaan tajam:

Jika pengawasan dan dukungan pemerintah setebal itu, bagaimana bisa ratusan hektar lahan dibiarkan tidak produktif selama ini?


Bantuan Anak Yatim Apresiatif, Namun Seolah Jadi Pemoles Citra Program

Pemberian bantuan kepada anak yatim adalah langkah baik. Namun publik berharap kegiatan sosial tidak dijadikan:

pengalihan isu produktivitas lahan,

atau pemanis agar program terlihat sukses.

Karena yang diukur masyarakat bukan hanya charity, tetapi hasil nyata dari ratusan hektar lahan yang dikelola perusahaan negara.


Benang Merah Investigasi: Banyak Ceremonial, Sedikit Laporan Output

Jika diamati dari tahun-tahun sebelumnya, pola PTPN sering berulang:

  1. Seremoni besar-besaran.
  2. Unggahan publikasi penuh pujian diri.
  3. Minim laporan panen.
  4. Minim audit produktivitas.
  5. Minim evaluasi kegagalan.

Dan kini muncul lagi pertanyaan publik:

Apakah 321 hektar ini benar-benar sudah diolah seluruhnya?

Atau baru sebagian kecil yang benar-benar siap?

Apakah 50 hektar jagung ini akan dipelihara sungguh-sungguh?

Atau akan kembali menjadi lahan setengah jadi?

Siapa yang bertanggung jawab jika hasil tidak sesuai target?


Kesimpulan: PTPN IV Perlu Membuktikan, Bukan Mengumumkan

Tutup tanam boleh meriah. Tanam perdana bisa dibuat spektakuler.
Namun tanpa data panen, produktivitas, laporan audit lahan, dan distribusi hasil, program ini akan dianggap:

Seremonial,

Menutup persoalan produktivitas,

Tidak menyentuh akar masalah lahan tidur,

Dan jauh dari target ketahanan pangan nasional.

Masyarakat menunggu bukti, bukan seremonial.
Menunggu hasil panen, bukan foto tanam.

Apakah PTPN IV siap menjawabnya?

(Rijal)

Example 300x375