Lampung | MediaViral.co
Sekitar dua abad lalu, tepatnya pada 1821, sejarah besar terjadi di tanah Palembang. Pertempuran antara Kesultanan Palembang Darussalam dan kolonial Belanda berakhir dengan kekalahan pihak kesultanan.
Kekalahan itu bukan hanya runtuhnya kekuasaan politik, tetapi juga menjadi awal perpindahan besar-besaran masyarakat Kedaton. Daripada hidup di bawah penindasan dan ancaman perbudakan kolonial, masyarakat memilih meninggalkan pusat kota Palembang dan menyingkir dari jantung kekuasaan yang telah dikuasai Belanda.
Hijrah ke Sepanjang Sungai Ogan
Masyarakat Kedaton bergerak menyusuri Sungai Ogan. Mereka membangun permukiman baru dari wilayah yang kini dikenal sebagai Ogan Ilir hingga Ogan Komering Ulu (Baturaja).
Di sepanjang aliran sungai inilah kehidupan baru dibangun. Mereka bertani, membuka lahan, dan mempertahankan harga diri sebagai orang merdeka meski negeri masih dalam cengkeraman penjajah.
Era Lada dan Gelombang ke Lampung
Sekitar tahun 1920, kabar tentang kejayaan lada sebagai komoditas unggulan menyebar luas. Lada saat itu menjadi primadona perdagangan internasional. Namun tanah di sepanjang Sungai Ogan dinilai kurang cocok untuk budidaya lada dalam skala besar.
Pilihan pun mengarah ke Lampung, wilayah yang tanahnya lebih sesuai untuk lada. Maka ribuan masyarakat Melayu Ogan berbondong-bondong menuju Lampung, membuka belukar, merambah hutan, dan membangun kebun lada dari ujung ke ujung wilayah tersebut.
Sejak saat itu, jejak Melayu Ogan menyebar hampir di seluruh penjuru Lampung. Hingga kini, jumlah keturunan Melayu Ogan di Lampung diperkirakan mencapai jutaan jiwa.
Agresi Belanda dan Pertempuran di Lampung
Pada masa Agresi Militer Belanda 1945–1949, Lampung—yang saat itu masih bagian dari Sumatera Selatan—kembali menjadi wilayah konflik.
Belanda datang dan memaksa petani menebang tanaman lada dan kopi sebagai upaya melumpuhkan kekuatan ekonomi rakyat yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Padahal bibit kopi, lada, dan cengkeh memang sebelumnya diperkenalkan pada masa kolonial untuk kepentingan dagang global.
Tindakan tersebut memicu perlawanan. Orang Melayu Ogan bersama Tentara Republik Indonesia bertempur mempertahankan tanah dan kebun mereka di Lampung.
Lampung Berpisah dari Sumatera Selatan
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949, Lampung tetap berada di bawah administrasi Sumatera Selatan. Baru pada 1964 terjadi pemekaran wilayah, dan Lampung resmi menjadi provinsi tersendiri, terpisah dari Sumatera Selatan yang dahulu berpusat di Palembang.
Perubahan Zaman dan Pergeseran Pertanian
Memasuki tahun 2000-an, komoditas lada mulai ditinggalkan sebagian petani. Perubahan iklim, kondisi tanah yang menurun kesuburannya, serta faktor ekonomi membuat lada tidak lagi seproduktif masa lalu. Banyak petani beralih ke komoditas lain yang lebih sesuai dengan kondisi lahan.
Kisah ini bukan sekadar cerita turun-temurun. Bagi masyarakat Melayu Ogan, sejarah ini diwariskan dari kakek kepada ayah, dari ayah kepada anak.
Siapa Melayu Ogan?
Mereka adalah keturunan masyarakat Kedaton Kesultanan Palembang Darussalam yang memilih meninggalkan istana demi menjaga kehormatan dan kebebasan.
Sebuah sejarah tentang kekalahan perang yang justru melahirkan ketahanan, migrasi, dan identitas yang bertahan hingga hari ini. (mediaviral.co)
















