Lampung Utara | MediaViral.co —
Desa Mekar Jaya dan Desa Sindang Agung, Kecamatan Tanjung Raja, Lampung Utara, mendadak gempar. Kepala Desa Mekar Jaya diduga selingkuh dengan warga Desa Sindang Agung, dan digerebek oleh istri sahnya sendiri dan selingkuhan juga masih berstatus istri sah orang lain.
Diduga peristiwa memalukan ini terjadi setelah sang istri sah menemukan bukti kuat berupa foto dan cat mesra percakapan romantis di WhatsApp kades. Diduga dalam hand phone Kades terlihat keduanya berduaan dengan gaya mesra, bahkan sang wanita hanya mengenakan tank top.
Saat penggerebekan berlangsung, perempuan selingkuhan itu awalnya enggan keluar rumah. Namun setelah didesak, akhirnya muncul dan terjadi adu mulut panas dengan istri sah sang kades.
“Kamu dikasih uang berapa sama suami saya? Sudah berapa kali kamu digarap? Kamu kan punya suami, kenapa rebut suami saya?” bentak istri sah, di depan warga yang menyaksikan langsung kejadian itu.
Warga sekitar yang menyaksikan langsung mengaku geram. Mereka menilai perilaku kades tersebut sangat tidak pantas, bahkan disebut biadab dan mempermalukan jabatan publik.
“Pejabat tapi kelakuannya kayak setan. Bukannya jadi panutan, malah jadi aib desa,” ujar seorang warga.
Lebih parah lagi, menurut informasi warga, perilaku amoral kepala desa di wilayah Tanjung Raja bukan hal baru. Sudah banyak kabar serupa beredar bahwa oknum-oknum kepala desa di wilayah itu sering “menggarap istri orang” dan saling melindungi sesama kades.
“Kalau diberitakan, pasti ada kades lain yang bela. Seolah mereka biasa dengan perbuatan bejat seperti ini,” tambah warga lain dengan kesal.
Ironisnya, warga yang mengunggah berita selingkuh itu di media sosial malah mendapat teguran dari salah satu kepala desa yang diduga membela pelaku. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa moral sebagian pemimpin desa di Tanjung Raja sudah runtuh.
Masyarakat kini menuntut Dinas PMD dan Inspektorat Lampung Utara segera turun tangan, selidiki sampai tuntas. Mereka mendesak agar semua pelaku kades yang doyan garap istri orang dan pelindung nya dicopot dari jabatannya karena dianggap telah mencoreng nama baik pemerintahan desa dan mempermalukan rakyat yang memilihnya.
“Jangan dibiarkan. Kalau pejabat desa bejat, rusak semua moral masyarakat. Ini contoh nyata manusia yang sudah jauh dari nurani,” tegas tokoh masyarakat setempat.
Kasus ini kini menjadi perbincangan hangat di seluruh Lampung Utara. Warga berharap aparat terkait tidak menutup mata atas ulah amoral pejabat desa yang seharusnya jadi teladan, bukan jadi pemangsa rumah tangga orang lain. (***)
















