Kediri, Jawa Timur – MediaViral.co
Siapa sangka, profesi yang selama ini identik dengan kritik tajam, bongkar skandal, dan tekanan tanpa henti, tiba-tiba “melunak” dalam satu malam penuh makna. Aliansi Wartawan Se-Jawa Timur (AWAS) membuat gebrakan tak biasa—menanggalkan sejenak wajah keras jurnalistik dan menunjukkan sisi yang jarang terekspos: kemanusiaan.
Bertempat di Gedung Nusantara Kwadungan, Selasa (17/03/2026), para jurnalis dari berbagai penjuru Jawa Timur tidak datang membawa kamera untuk memburu konflik. Mereka datang dengan satu tujuan: berbagi, peduli, dan “mengobati” jiwa yang lelah oleh kerasnya medan berita.
Ketua Umum AWAS, Noer Khalifah, tanpa basa-basi mengakui bahwa dunia wartawan bukan hanya keras—tapi juga bisa “menggerus rasa”.
“Kami setiap hari disuguhi berita panas, konflik, dan tekanan. Kalau tidak diimbangi, kita bisa kehilangan sisi kemanusiaan,” tegasnya lugas.
Dalam momen itu, ia mengutip pesan yang seolah menjadi tamparan bagi banyak pihak:
“Khairunnas anfa’uhum linnas—manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.”
Pernyataan tersebut bukan sekadar pemanis acara. Ini seperti sinyal keras bahwa wartawan tidak boleh hanya jadi “penonton penderitaan”, tapi juga harus hadir sebagai bagian dari solusi.
“Di balik tajamnya pena, kami ingin dunia tahu—wartawan juga punya hati. Kami tidak hanya menulis penderitaan, tapi juga ingin ikut meringankannya,” lanjutnya dengan nada penuh penekanan.
Nama Gus Blue—KH. Arif Widodo Abdulloh, S.Pd.I—menjadi magnet tersendiri dalam acara ini. Tausiyahnya bukan hanya mengundang tawa lewat selipan humor, tapi juga menghantam sisi batin para hadirin dengan pesan-pesan yang menggugah.
Namun puncak “ledakan emosi” terjadi saat santunan anak yatim dimulai. Suasana yang semula hangat berubah menjadi haru. Beberapa wartawan yang biasanya dingin di lapangan, kali ini tak mampu menyembunyikan rasa—sebuah pemandangan yang jarang terlihat.
Momen ini seolah menjadi ironi sekaligus refleksi: mereka yang setiap hari memberitakan air mata orang lain, kini justru larut dalam keharuan yang sama.
Kegiatan AWAS ini seperti menyentil keras dunia jurnalistik—bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal tajamnya tulisan, tapi juga sejauh mana empati masih hidup di dalam diri.
Di tengah derasnya arus informasi yang kerap kejam dan tanpa jeda, aksi ini menjadi pengingat keras: jika hati sudah mati, maka berita hanya akan jadi angka—tanpa makna.
Acara ditutup dengan doa bersama, seolah menjadi penegasan bahwa di balik kerasnya profesi wartawan, masih ada harapan: bahwa pena tetap tajam, tapi hati tidak ikut tumpul.
(Reporter: Lisa DS)
















