Jambi – MediaViral.co
Skandal peretasan yang mengguncang Bank Pembangunan Daerah Jambi terus menguak fakta mengejutkan. Dari total dana nasabah yang dibobol mencapai Rp143 miliar, sekitar Rp19 miliar terdeteksi mengalir ke mata uang kripto (crypto).
Gubernur Al Haris mengungkapkan sebagian aliran dana hasil pembobolan tersebut sudah mulai terlacak.
“Itu terdeteksi ada Rp19 miliar di crypto, kemudian ada juga ke Bank Permata dan Sampoerna,” ujar Al Haris kepada wartawan, Senin (9/3/2026) malam.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jambi telah meminta bantuan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan untuk melakukan upaya penelusuran sekaligus penarikan kembali dana yang diduga disalurkan melalui sejumlah jalur keuangan tersebut.
6.000 Rekening Nasabah Terkuras
Kasus peretasan ini diduga terjadi pada 22 Februari 2026 dan berdampak besar terhadap sistem perbankan daerah tersebut. Lebih dari 6.000 rekening nasabah dilaporkan terdampak dengan total kerugian fantastis mencapai Rp143 miliar.
Penyelidikan kini ditangani Polda Jambi yang menggandeng Bareskrim Polri untuk memburu pelaku.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Taufik Nurmandia menegaskan proses penyelidikan masih terus berjalan.
“Benar, kita dalam tahap komunikasi dengan Bareskrim Polri untuk mengusut tuntas kasus ini,” kata Taufik.
Mobile Banking dan ATM Lumpuh Dua Pekan
Dampak serangan siber tersebut membuat layanan mobile banking dan ATM Bank Jambi terpaksa diblokir selama 14 hari terakhir.
Manajemen bank menyebutkan saat ini pihaknya sedang melakukan evaluasi besar terhadap sistem keamanan teknologi informasi.
Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Jambi, Zulfikar, menjelaskan bahwa pihaknya tengah memenuhi berbagai standar keamanan yang diminta regulator.
“Kita memenuhi instrumen security yang diminta otoritas. Ini terus berjalan dan berkaitan dengan vendor sistem,” ujarnya.
Bank Jambi menargetkan seluruh layanan kembali normal sebelum masa cuti bersama Idul Fitri.
Antrean Nasabah Mengular Sejak Subuh
Pemblokiran sistem perbankan membuat ribuan nasabah terpaksa mendatangi kantor cabang untuk melakukan transaksi manual. Kondisi ini memicu antrean panjang hampir setiap hari.
Di salah satu kantor cabang pembantu di Kota Jambi, seorang pensiunan ASN mengaku harus datang sejak selepas sahur agar tidak kehabisan nomor antrean.
“Setengah enam habis sahur saya sudah di sini, tapi ternyata sudah ada yang lebih dulu menunggu. Mereka jam lima sudah datang,” keluhnya.
Situasi ini membuat banyak nasabah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama di tengah bulan Ramadan. Tidak sedikit pula yang harus pulang dengan tangan kosong karena nomor antrean sudah habis sejak pagi.
Kerugian Nasabah Bervariasi
Berdasarkan penelusuran sementara, kerugian nasabah perorangan bervariasi, mulai dari Rp17 juta hingga Rp24 juta per orang.
Kasus ini kini menjadi salah satu insiden keamanan perbankan terbesar yang pernah terjadi di Jambi, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar mengenai ketahanan sistem keamanan bank daerah terhadap serangan siber.
Jika pelaku berhasil dilacak, kasus ini berpotensi menjadi operasi kejahatan digital lintas negara, mengingat sebagian dana telah dipindahkan ke aset kripto yang sulit dilacak. (mediaviral.co)
















