Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Lautan Tangis dan Amarah di Teheran: Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Jadi Panggung Seruan Balas Dendam

17
×

Lautan Tangis dan Amarah di Teheran: Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Jadi Panggung Seruan Balas Dendam

Sebarkan artikel ini

Teheran, Iran – MediaViral.co

Tangis ribuan warga pecah di jalan-jalan utama Teheran, Minggu (1/3/2026), saat prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berlangsung dalam suasana duka nasional yang berubah menjadi gelombang kemarahan publik.

Example 300x375

Sejak pagi hari, lautan manusia membanjiri ibu kota Iran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang lebih dari tiga dekade menjadi pusat kekuasaan politik dan spiritual Republik Islam.

Peti jenazah Khamenei diarak perlahan, diiringi doa dan lantunan ayat suci. Sejumlah pelayat tampak menangis histeris, sebagian lainnya mengangkat poster bergambar sang pemimpin. Bendera Iran dan simbol-simbol perlawanan berkibar di sepanjang rute prosesi. Siaran televisi pemerintah memperlihatkan kerumunan besar memadati jalan, atap bangunan, hingga trotoar demi menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Khamenei dilaporkan wafat pada Sabtu (28/2/2026) akibat serangan yang dikaitkan dengan Israel, peristiwa yang langsung memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional. Aparat keamanan dikerahkan dalam jumlah besar untuk menjaga jalannya prosesi. Namun suasana tidak hanya dipenuhi kesedihan—teriakan kemarahan menggema di berbagai titik.

Ribuan pelayat meneriakkan tuntutan pembalasan terhadap Amerika Serikat dan Israel, yang mereka anggap bertanggung jawab atas kematian pemimpin tertinggi negara tersebut. Slogan-slogan anti-Barat menggema keras, mencerminkan emosi publik yang memuncak di tengah situasi geopolitik yang semakin panas.

Bagi banyak warga Iran, Khamenei bukan sekadar pemimpin politik. Ia adalah simbol revolusi, penjaga ideologi negara, sekaligus figur religius yang membentuk arah kebijakan nasional sejak menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989.

Selama masa kepemimpinannya, Iran menghadapi sanksi internasional, konflik regional, hingga persaingan strategis berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Kepergian Khamenei secara mendadak kini membuka pertanyaan besar tentang masa depan politik Iran.

Dalam sistem Republik Islam, Pemimpin Tertinggi merupakan otoritas tertinggi negara, melampaui presiden dan parlemen. Karena itu, proses suksesi menjadi sorotan utama, baik di dalam negeri maupun internasional.

Sejumlah analis menilai, momentum pemakaman ini sekaligus menjadi ajang konsolidasi nasional. Pemerintah tampak berupaya menunjukkan persatuan rakyat di tengah tekanan eksternal, sekaligus memperkuat legitimasi menjelang proses transisi kepemimpinan yang sensitif.

Di sisi lain, komunitas internasional memantau situasi dengan cermat. Kekhawatiran muncul bahwa tuntutan balas dendam yang menguat di ruang publik Iran dapat mendorong eskalasi militer lebih lanjut.

Jika Iran mengambil langkah pembalasan langsung, konflik berpotensi meluas dan menyeret kekuatan regional maupun global ke dalam konfrontasi terbuka. Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, terutama pasokan energi dunia, mengingat posisi strategis Iran di kawasan Teluk Persia.

Sejumlah negara menyerukan penahanan diri dari semua pihak guna mencegah spiral konflik yang lebih luas.

Bagi warga yang hadir di Teheran, hari itu bukan sekadar upacara pemakaman. Ia menjadi simbol perpisahan dengan era panjang kepemimpinan—sekaligus awal dari babak penuh ketidakpastian.

Di tengah tangis dan doa, gema kemarahan yang membahana memberi pesan tegas: kematian seorang pemimpin di Iran bukan hanya soal kehilangan, tetapi bisa menjadi titik balik arah politik kawasan.

Prosesi penghormatan terakhir dijadwalkan berlangsung beberapa hari ke depan sebelum jenazah dimakamkan melalui upacara kenegaraan dan keagamaan. Dunia kini menanti—apakah Teheran memilih jalur diplomasi, atau memasuki fase konfrontasi yang lebih berbahaya.

(kompas / mediaviral.co)

Example 300250