Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Dituding Nongkrong Saat Warga Tenggelam, Satgas SAR Lhokseumawe Buka Suara: “Kami Tidak Tinggal Diam!”

8
×

Dituding Nongkrong Saat Warga Tenggelam, Satgas SAR Lhokseumawe Buka Suara: “Kami Tidak Tinggal Diam!”

Sebarkan artikel ini

Lhokseumawe, Aceh – MediaViral.co

Nama Satgas SAR Kota Lhokseumawe mendadak jadi sorotan publik. Sebuah pemberitaan di media siber menyebut tim terlihat santai nongkrong di warung kopi saat insiden orang tenggelam terjadi di kawasan Wisata Pantai Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (13/02/2026) sore.

Example 300250

Narasi tersebut sontak memicu gelombang kritik di media sosial. Namun, pihak Satgas SAR tak tinggal diam.

Ketua Satgas SAR Kota Lhokseumawe, Mohd. Idrus, memberikan klarifikasi tegas. Ia menyebut tudingan yang beredar tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Menurutnya, informasi awal diterima pukul 18.45 WIB dari Geuchik setempat terkait kondisi yang membahayakan nyawa manusia di Pantai Lancok. Karena lokasi berada di wilayah Kabupaten Aceh Utara, pihaknya langsung meneruskan laporan tersebut ke Satgas SAR Aceh Utara serta ke Pos Basarnas Bireuen sebagai pihak yang memiliki kewenangan wilayah.

Namun pada pukul 19.15 WIB, Geuchik kembali menghubungi dan meminta Satgas SAR Lhokseumawe segera turun ke lokasi. Dengan pertimbangan kemanusiaan, enam personel rescuer langsung diberangkatkan dan dipimpin langsung oleh Kasatgas.

Peralatan Rusak Berat, Anggaran Hibah Belum Turun

Dalam keterangannya, Idrus juga mengungkap fakta yang jarang diketahui publik: peralatan water rescue dan under water rescue milik Satgas SAR Lhokseumawe dalam kondisi rusak berat dan masih menunggu realisasi anggaran hibah dari Pemko Lhokseumawe.

“Kami tidak memungkinkan menurunkan peralatan dalam kondisi rusak karena itu justru membahayakan keselamatan rescuer,” tegasnya.

Soal “Nongkrong di Warung Kopi”

Isu yang paling disorot adalah keberadaan Ketua Satgas bersama dua personel di warung kopi dekat lokasi kejadian. Pihak Satgas menjelaskan, itu bukan aktivitas bersantai, melainkan koordinasi lanjutan dengan Geuchik dan tokoh masyarakat sembari menunggu tim dengan perlengkapan lengkap tiba.

Sementara tiga personel lainnya tetap berada di titik berbeda untuk memantau keluarga korban serta warga dan nelayan yang melakukan pencarian menggunakan jaring.

Sekitar 15 menit kemudian, korban berhasil ditemukan sebelum tim dari Bireuen tiba—yang saat itu dilaporkan masih terjebak kemacetan di Jembatan Kutablang.

Evakuasi pun dilakukan cepat dengan bantuan personel Polsek, Koramil Syamtalira Bayu, serta warga menggunakan satu unit pick up milik Satgas SAR Lhokseumawe. Namun pihak keluarga menolak dilakukan visum sehingga korban langsung diserahkan ke rumah duka.

Tegaskan SOP Pencarian Malam Hari

Satgas juga menegaskan bahwa pencarian malam hari memiliki risiko tinggi dan tunduk pada Standar Operasional Prosedur (SOP) ketat. Faktor visibilitas, keselamatan personel, kondisi cuaca, hingga kesiapan peralatan menjadi pertimbangan utama sebelum operasi dilakukan secara penuh.

“Keselamatan tim adalah prioritas. Pencarian malam tetap bisa dilakukan, tapi harus terukur dan tidak gegabah,” jelasnya.

Soroti Etika Jurnalistik

Tak hanya mengklarifikasi, pihak Satgas juga menyayangkan metode wawancara wartawan yang dinilai tidak memperkenalkan identitas maupun menunjukkan ID pers, serta tidak memuat keterangan utuh terkait batas kewenangan wilayah dalam pemberitaan.

Satgas berharap insan pers tetap berpedoman pada UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik dalam setiap peliputan.


Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah situasi darurat, persepsi publik bisa terbentuk hanya dari potongan gambar dan narasi sepihak. Di sisi lain, transparansi dan profesionalisme—baik dari aparat maupun media—tetap menjadi kunci agar kepercayaan publik tidak runtuh hanya karena asumsi. (mediaviral.co)

Example 300x375