Maluku Utara – MediaViral.co
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menjadi sorotan publik berkat gaya kepemimpinannya yang kerap turun langsung menemui masyarakat. Di sisi lain, kekayaan dan jaringan bisnis yang dimilikinya juga menarik perhatian luas.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), total kekayaan Sherly Tjoanda tercatat mencapai Rp972.112.709.057 atau sekitar Rp972 miliar. Angka tersebut menempatkannya sebagai salah satu gubernur terkaya di Indonesia.
Selain menjabat sebagai kepala daerah, Sherly diketahui memiliki sejumlah usaha di berbagai sektor strategis, mulai dari pertambangan, perhotelan, pelayaran, hingga perikanan.
Namun demikian, nama Sherly Tjoanda juga disebut dalam pusaran dugaan kasus suap yang melibatkan PT Wanatiara Persada di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Jakarta Utara. KPK disebut berpeluang memeriksa Sherly apabila ditemukan bukti keterkaitan dengan perizinan tambang, mengingat perusahaan tersebut beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Tujuh Bisnis Utama Sherly Tjoanda
Berikut ringkasan tujuh bisnis utama yang menjadi sumber penghasilan Sherly Tjoanda:
Pertama, PT Bela Group, perusahaan yang didirikan mendiang suaminya, Benny Laos. Sherly menjabat sebagai direktur dan memiliki 25,5 persen saham. Perusahaan ini membawahi berbagai lini usaha, termasuk Bela Hotel Ternate.
Kedua, PT Karya Wijaya, perusahaan jasa dan pertambangan nikel yang diwariskan kepada Sherly. Ia tercatat sebagai pemegang saham terbesar. Perusahaan ini memiliki konsesi tambang di Pulau Gebe dan Halmahera Timur dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang berlaku hingga 4 Desember 2040.
Sherly menegaskan dirinya tidak lagi aktif mengelola perusahaan tersebut.
“Saya sudah tidak menjadi pengurus aktif di PT Karya Wijaya,” ujarnya.
Ketiga, PT Amazing Tabara, perusahaan tambang emas yang disebut dimiliki Sherly sebesar 90 persen saham. Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyebutkan keterlibatan tersebut, meskipun izin perusahaan ini dikabarkan telah dicabut sekitar tahun 2022.
Keempat, PT Indonesia Mas Mulia, perusahaan tambang emas dan tembaga yang beroperasi di Bacan, Halmahera Selatan. Sherly diduga memiliki 15 persen saham di perusahaan dengan konsesi seluas 4.800 hektare.
Kelima, PT Bela Sarana Permai, perusahaan tambang pasir besi dengan kepemilikan saham Sherly sekitar 58 persen. Perusahaan ini memiliki konsesi seluas 4.290 hektare di Pulau Obi dan sempat menjadi sorotan akibat dugaan tumpang tindih dengan permukiman warga.
Keenam, bisnis pelayaran melalui Bela Shipping, yang bergerak di bidang pengiriman barang antarpulau.
Ketujuh, bisnis perikanan berupa pengolahan ikan tuna berbasis teknologi cold storage yang mendukung ekspor dan menjadi salah satu komoditas unggulan Maluku Utara.
Rincian Kekayaan
Dalam laporan LHKPN, kekayaan Sherly Tjoanda meliputi ratusan aset tanah dan bangunan, alat transportasi, surat berharga, kas dan setara kas, serta harta lainnya. Setelah dikurangi utang, total kekayaan bersihnya mencapai Rp972 miliar.
Hingga saat ini, KPK belum memberikan keterangan resmi terkait status hukum Sherly Tjoanda dalam perkara yang disebutkan tersebut.
Editor: Dani
Sumber: Suara.com
Mediaviral.co
















