Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Umat Beragama Dinilai Berada di Garda Terdepan Kebangkitan Indonesia

65
×

Umat Beragama Dinilai Berada di Garda Terdepan Kebangkitan Indonesia

Sebarkan artikel ini

Medan, Sumatera Utara – MediaViral.co

Peran umat beragama dinilai berada di garda terdepan dalam menjaga persatuan sekaligus mendorong kebangkitan Indonesia di tengah berbagai tantangan kebangsaan. Penegasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Muhasabah Menyambut Pergantian Tahun Baru 2026 yang digelar di VIP Aksara Khupi, Medan, Selasa malam (31/12/2025).

Example 300250

Kegiatan yang dihadiri tokoh agama, akademisi, cendekiawan, serta masyarakat umum ini menjadi ruang refleksi bersama atas kondisi bangsa sepanjang 2025 sekaligus menatap arah Indonesia ke depan, khususnya menuju Indonesia Emas 2045.

Salah satu pembicara utama, Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 Indonesia menghadapi sejumlah tantangan besar. Tantangan pertama adalah menjaga kesatuan dan persatuan bangsa, yang menurutnya merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk umat beragama.

Tantangan kedua, lanjut Syahrin, adalah perlunya dorongan agar pemerintah melakukan perbaikan menyeluruh guna meningkatkan kesejahteraan rakyat yang hingga kini belum merata. Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama melalui sektor pendidikan.

Ia menekankan pentingnya pemenuhan gizi dan protein bagi anak-anak usia sekolah, mulai dari SD hingga SLTA, serta ibu hamil, melalui program Makanan Bergizi (MBG) yang merata di seluruh Indonesia.

“Program sekolah rakyat gratis bagi masyarakat tidak mampu, di mana seluruh kebutuhan pendidikan mulai dari tempat tinggal, konsumsi, hingga seragam ditanggung pemerintah, merupakan langkah strategis menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Syahrin yang juga mantan Rektor UIN Sumatera Utara.

Selain itu, Prof. Syahrin juga menyoroti ujian bangsa berupa bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah, termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Ia juga menilai pelaksanaan Perayaan Natal Bersama yang rutin diselenggarakan Kementerian Agama sebagai upaya penting dalam memperkuat toleransi dan harmoni antarumat beragama.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Syahrin menilai sepanjang 2025 juga muncul tanda-tanda kebangkitan bangsa. Di antaranya terlihat dari semangat kemandirian nasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengelolaan sumber daya alam tanpa ketergantungan berlebihan pada pihak asing.

Ia juga menyinggung meningkatnya semangat nasionalisme yang tercermin melalui simbol-simbol kebangsaan, termasuk penggunaan busana bernuansa Proklamator oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam berbagai kegiatan kenegaraan.

“Penguatan ekonomi kerakyatan juga tampak dari pembentukan ribuan koperasi desa serta penyaluran kredit modal usaha bagi UMKM melalui Himpunan Bank Negara (Himbara),” tambahnya.

Namun demikian, Prof. Syahrin mengingatkan masih terdapat kelemahan mendasar yang harus segera dibenahi, terutama rendahnya kualitas SDM dalam mengelola kekayaan negara berbasis teknologi maju. Ia juga menyoroti adanya politisasi lembaga keagamaan yang berpotensi melemahkan persatuan bangsa.

Memasuki 2026, ia mengajak umat Islam dan umat beragama secara umum untuk lebih aktif terlibat dalam proses pemerintahan dan pembangunan nasional.

“Masyarakat dakwah harus mengambil peran nyata. Dakwah tidak hanya sebatas ceramah, tetapi juga kontribusi langsung bagi kemajuan bangsa,” tegasnya.

Sementara itu, pembicara pembuka Dr. H. Sori Monang Rangkuti, M.Th, Ketua Ittihadul Mubalighin wal Muballigha (IMMI) Sumatera Utara sekaligus dosen UIN Sumatera Utara, mengangkat tema “Peran Universitas untuk Kemajuan Bangsa.”

Ia menilai kualitas perguruan tinggi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan universitas di sejumlah negara lain, terutama dalam budaya akademik membaca dan menulis karya ilmiah.

“Ilmu adalah warisan para nabi. Jika mahasiswa memiliki ilmu, maka merekalah pewaris nabi,” ujar Sori Monang, alumnus pendidikan di India.

Ia menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Namun ilmu tersebut harus dibarengi dengan etika, akhlak, jiwa akademik, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.

“Banyak hadis mengajarkan keutamaan menuntut ilmu. Ini harus menjadi spirit mahasiswa dalam membangun peradaban dan kemajuan bangsa,” pungkas kandidat calon Ketua STAIN Mandailing Natal itu.

(KRO/RD/A)

Example 300x375