Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Satgas Pangan Polda Lampung Temukan Harga Beras Premium Melebihi HET di Tanggamus

12
×

Satgas Pangan Polda Lampung Temukan Harga Beras Premium Melebihi HET di Tanggamus

Sebarkan artikel ini

Investigasi Lapangan Ungkap Pola Distribusi dan Penjualan yang Bikin Harga Melonjak

Lampung — MediaViral.co

Example 300250

Upaya pemerintah menstabilkan harga beras kembali diuji. Dalam pengecekan lapangan yang berlangsung dua hari, 17–18 November 2025, Satgas Pengendalian Harga Beras Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Polda Lampung menemukan sejumlah titik penjualan beras premium di Kabupaten Tanggamus yang masih mematok harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Temuan ini memunculkan pertanyaan baru: apakah kenaikan harga benar terjadi di hulu, atau justru dipengaruhi pola penjualan di tingkat pedagang?


Harga Tak Seragam, Pengawasan Diperketat

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari menegaskan pengecekan dilakukan secara menyeluruh di pasar tradisional, retail modern, penggilingan padi, hingga distributor. Tujuannya bukan hanya melihat harga, tapi menilai rantai distribusi dan margin keuntungan pedagang.

“Masih ada toko yang menjual beras premium di atas HET. Ini sudah kami beri teguran dan akan kami pantau terus,” ujar Yuni dengan tegas namun menenangkan, Selasa (18/11/2025).

Pengecekan tersebut melibatkan Satgas Pangan Polda Lampung, tim Bapanas RI, Bulog Kanwil Lampung, serta perangkat daerah Tanggamus.

Lokasi pemantauan mencakup Pasar Induk Talang Padang, Pasar Gisting, Pasar Kota Agung, Penggilingan Beras Sumber Tani, serta distributor Juragan Beras, salah satu pemain besar distribusi beras di wilayah tersebut.


Harga Premium Masih Menanjak di Lapangan

Hasil investigasi menunjukkan perbedaan harga cukup mencolok antar-toko.
Beberapa toko seperti Yakup, Talif, dan Sinar Harapan kedapatan menjual beras premium di angka Rp15.000 per kilogram, melampaui HET yang ditetapkan pemerintah yakni Rp14.900 per kilogram.

Sementara itu, beras medium tampak lebih stabil, dijual pada kisaran Rp12.500–Rp13.500 per kilogram.

Di retail modern seperti Alfamart, harga terlihat lebih terkendali. Beras SPHP Bulog konsisten di Rp12.500 per kilogram, sementara beras premium berada tepat di angka Rp14.900 per kilogram, mengikuti ketentuan.


Penggilingan dan Distributor: Titik Tekan yang Sering Terabaikan

Satgas juga mendalami rantai distribusi di tingkat penggilingan dan distributor, titik krusial yang kerap menentukan fluktuasi harga.

Di Penggilingan Sumber Tani, tim menemukan pola margin yang relatif kecil:

Harga beli gabah: Rp7.100/kg

Beras medium dijual: Rp13.500/kg

Beras premium dijual: Rp14.500/kg

Harga premium di penggilingan ini sebenarnya masih berada di bawah HET, menunjukkan bahwa kenaikan harga lebih banyak terjadi saat beras berpindah ke tingkat pedagang.

Kunjungan ke distributor Juragan Beras menguatkan dugaan tersebut. Distributor menjual berbagai varian — mulai dari Rojo Lele, Buah Hati, Dua Ikan Renang, Kakak Adik, Raja Udang, hingga WP — dengan margin keuntungan sekitar Rp400–Rp700 per kilogram.

Meski margin ini tidak besar, perbedaan distribusi dan permintaan antar-kecamatan turut mempengaruhi kenaikan harga di pengecer.


Teguran Diberikan, Penjualan Diminta Lebih Transparan

Kombes Yuni memastikan sejumlah toko yang menjual di atas HET telah diberi teguran. Satgas meminta para pedagang menyesuaikan harga agar tidak memberatkan masyarakat.

Di sisi lain, penggilingan dan distributor juga diarahkan untuk meningkatkan penyaluran ke wilayah yang harga berasnya cenderung lebih fluktuatif.

“Bulog akan menambah penyaluran beras SPHP ke toko dan kios agar akses masyarakat terhadap beras bersubsidi makin mudah,” lanjut Yuni.


Analisis Satgas: Distribusi dan Pola Penjualan Jadi Pemicu

Dari hasil investigasi, Satgas menyimpulkan faktor utama kenaikan harga bukan semata-mata kenaikan harga gabah atau distribusi dari penggilingan. Banyak toko menambahkan margin lebih tinggi untuk komoditas premium, sehingga selisih dengan HET menjadi signifikan.

“Kesimpulannya, masih ada beras premium yang dijual melebihi HET. Satgas akan terus mengawasi agar kebijakan stabilisasi harga benar-benar dirasakan masyarakat,” tegas Yuni.


Pengawasan Berkelanjutan

Polda Lampung memastikan operasi pengawasan harga beras akan dilakukan secara berkala untuk menekan spekulasi dan mencegah pedagang mempermainkan harga di tengah tingginya permintaan.

Dengan pengawasan berlapis dari pusat hingga daerah, pemerintah berharap stabilitas pangan tetap terjaga di Lampung, terutama menjelang masa-masa ketika harga komoditas strategis rawan melonjak. (mediaviral.co)

Example 300x375