Lampung Barat – MediaViral.co
Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur pendidikan, sebuah fakta kontras terjadi di SD Negeri 1 Pekon Balak, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat. Sekolah yang berada di jantung kecamatan itu selama bertahun-tahun beroperasi tanpa pagar, menjadikannya salah satu sekolah dasar paling rentan terhadap ancaman keamanan.
Sementara beberapa sekolah lain mendapat alokasi pembangunan fisik, SDN 1 Pekon Balak justru seperti luput dari perhatian. Padahal pihak sekolah mengaku sudah berkali-kali mengajukan proposal resmi ke dinas terkait, namun tak satu pun mendapatkan respons nyata.
Pagar Tak Ada, Risiko Mengintai Setiap Hari
Hasil penelusuran mediaviral.co di lapangan memperlihatkan kondisi memprihatinkan. Area belakang sekolah yang berbatasan langsung dengan permukiman warga terbuka tanpa penghalang sedikit pun. Dari sisi samping sekolah, rerumputan dan tanah kosong menjadi akses bebas keluar masuk.
Tidak hanya manusia, hewan ternak seperti kambing, ayam, hingga kerbau diketahui beberapa kali masuk ke area sekolah, mengotori halaman dan mengganggu aktivitas belajar.
“Sangat rawan. Kadang ada hewan lewat saat jam belajar. Kami kesulitan menjaga lingkungan tetap kondusif,” ujar salah satu guru yang enggan disebutkan namanya karena alasan kenyamanan.
Lebih mengkhawatirkan, ketiadaan pagar juga mempermudah siswa keluar dari area sekolah tanpa sepengetahuan guru.
“Anak-anak bisa keluar dengan mudah. Tidak aman, dan sulit untuk mengontrol kedisiplinan,” tambahnya.
Proposal Diduga “Mengendap” di Dinas Pendidikan
Pihak sekolah mengaku sudah berulang kali mengirimkan proposal pembangunan pagar ke dinas pendidikan kabupaten. Proposal dikirim setiap tahun, namun hingga kini seperti tidak mendapat kepastian arah kebijakan.
“Kami mengajukan proposal hampir setiap tahun. Tapi belum ada realisasi. Seolah-olah kebutuhan ini tidak dianggap penting,” ungkap seorang staf sekolah.
Sejumlah pihak menilai ada kemungkinan proposal tersebut mengendap di meja dinas, entah karena faktor prioritas pembangunan atau lemahnya komunikasi lintas instansi.
Ketika tim mediaviral.co mencoba mengonfirmasi pejabat dinas pendidikan Lampung Barat, beberapa pihak mengaku belum mengetahui detail permohonan tersebut, sementara sebagian lainnya memilih tidak memberikan komentar.
Solusi Darurat: Kawat dan Penghalang Seadanya
Karena terus menunggu tanpa kepastian, pihak sekolah terpaksa mengambil langkah darurat dengan memasang kawat di beberapa bagian terbuka. Namun cara ini jauh dari ideal. Kawat mudah dirusak, tidak aman, dan tidak memenuhi standar keamanan untuk sekolah dasar.
“Semampu kami saja. Tidak mungkin terus dibiarkan terbuka,” ujar pihak sekolah.
Upaya mandiri tersebut justru menjadi bukti nyata bahwa pemerintah lamban menangani kebutuhan dasar sekolah.
Dampak Langsung Terhadap Pembelajaran
Investigasi lapangan mengungkapkan beberapa dampak nyata dari absennya pagar sekolah:
- Risiko keselamatan tinggi
Anak-anak dapat keluar kapan saja. Potensi tersesat, tertabrak kendaraan, atau menjadi korban tindak kejahatan menjadi kekhawatiran utama.
- Disiplin siswa menurun
Banyak siswa yang “memotong jalan” melalui area belakang sekolah untuk pulang tanpa sepengetahuan guru.
- Lingkungan tidak kondusif
Hewan ternak dan lalu-lalang warga mengganggu kebersihan dan kenyamanan.
- Aset sekolah tidak aman
Beberapa peralatan sekolah rentan hilang karena area yang terbuka tanpa pengawasan maksimal.
Pertanyaan Serius untuk Pemerintah Daerah
Kasus SDN 1 Pekon Balak menimbulkan sejumlah pertanyaan kritis:
Mengapa sekolah di pusat kecamatan bisa bertahun-tahun tanpa pagar?
Apakah proposal benar-benar tidak diprioritaskan, atau ada persoalan administrasi di tingkat dinas?
Bagaimana standar keamanan sekolah dasar bisa diabaikan hingga sejauh ini?
Jika anggaran terbatas, mengapa sekolah lain mendapat pembangunan fisik sementara kebutuhan mendesak seperti ini terlewat?
Investigasi lanjutan mengungkapkan bahwa sejumlah sekolah lain di kecamatan berbeda mendapat proyek pembangunan fisik pada tahun yang sama. Hal ini memicu dugaan bahwa pemerataan pembangunan belum berjalan optimal.
Harapan Besar Menunggu Gerak Cepat Pemerintah
Pihak sekolah berharap pemerintah daerah, terutama Dinas Pendidikan Lampung Barat, segera menindaklanjuti permohonan pembangunan pagar yang sejak lama menjadi kebutuhan mendesak.
“Kami hanya ingin anak-anak belajar dengan aman. Itu saja. Pagar bukan kemewahan, tapi kebutuhan dasar,” tegas salah satu guru.
Dengan jumlah siswa yang terus bertambah, SDN 1 Pekon Balak membutuhkan perhatian serius. Pagar sekolah bukan sekadar struktur beton, tetapi fondasi keamanan dan kualitas pendidikan yang layak bagi anak-anak.
Masyarakat dan orang tua siswa juga berharap pemerintah bertindak cepat. Kondisi ini tidak boleh lagi dianggap sepele.
(ican)
















