Ogan Ilir, Sumatera Selatan — MediaViral.co
Kondisi jembatan penghubung tiga wilayah sekaligus—Kabupaten Ogan Ilir, OKU, dan Kota Prabumulih—kian mengkhawatirkan. Kerusakan yang semakin menganga bukan lagi sekadar memprihatinkan, melainkan sudah berada di ambang maut.
Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai insiden kembali terjadi. Mulai dari truk bermuatan berat yang terperosok, hingga aksi nekat kendaraan tronton yang memaksakan diri melintas di atas jembatan yang jelas-jelas mengalami kerusakan parah. Kejadian ini memicu kemarahan warga dan memantik pertanyaan besar:
Sampai kapan Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, menutup mata dan membiarkan risiko tragedi semakin dekat?
Kemurkaan Warga Memuncak
Ketua DPD Generasi Muda Peduli Tanah Air (GEMPITA), Budi Rizkiyanto, tidak dapat lagi menyembunyikan emosinya saat menyaksikan langsung tronton ugal-ugalan melintas di jembatan tersebut.
“Ini sudah kelewatan! Apa mereka buta? Jembatan ini mau roboh?! Pemerintah provinsi harus turun tangan. Jangan biarkan ini berlanjut!” teriaknya geram.
Menurut Budi, aksi para sopir yang tetap memaksa lewat bukan hanya sebuah kecerobohan, tetapi bisa menjadi pemicu runtuhnya jembatan yang setiap harinya dilintasi ribuan warga. Ia menegaskan bahwa kecelakaan fatal hanya tinggal menunggu waktu jika pemerintah tidak segera bertindak.
Kades Tebedak I Kembali Mendesak Gubernur Bertindak
Kepala Desa Tebedak I, Zuhriyadi, yang sebelumnya juga telah berulang kali menyuarakan kegelisahan warga, kembali menegaskan desakan kepada Gubernur Sumsel agar bergerak cepat.
“Jembatan ini adalah urat nadi ekonomi kami. Kalau sampai putus, dampaknya sangat besar,” ujarnya kepada media, Senin (1/12/2025).
Ia menekankan bahwa kerusakan seperti ini bukan kali pertama terjadi. Kondisi tersebut menunjukkan adanya masalah struktural yang memerlukan penanganan permanen, bukan sekadar perbaikan tambal sulam.
Insiden Demi Insiden: Bukti Bahwa Jembatan Tidak Lagi Aman
Pada 8 Desember 2025, sebuah truk bermuatan paku bumi terperosok di bagian jembatan yang sudah lapuk. Kejadian itu semakin memperparah kerusakan yang sudah ada. Akibatnya, warga secara swadaya harus turun ke jalan untuk mengatur lalu lintas demi mencegah kejadian serupa.
Seorang warga mengeluhkan:
“Jembatan Payaraman makin parah. Mobil tiang listrik saja masih maksa lewat. Lama-lama jebol ini.”
Jembatan yang berada di perbatasan Payaraman Barat dan Tebedak I itu merupakan jalur utama distribusi barang, perjalanan masyarakat, hingga mobilitas ekonomi antarwilayah. Jika ambruk, bukan hanya aktivitas ekonomi yang lumpuh, tetapi juga berpotensi memakan korban jiwa.
Ancaman Aksi Besar Jika Pemprov Terus Diam
Di akhir pernyataannya, Budi Rizkiyanto memberi sinyal keras bahwa kesabaran warga mulai habis.
“Jika pemerintah provinsi terus mengabaikan jeritan kami, jangan salahkan kalau kami kembali turun ke jalan. Apakah kami harus menggelar aksi yang lebih besar agar didengar?! Kami tidak ingin ada korban jiwa akibat kelalaian ini. Gubernur Sumsel harus bertanggung jawab penuh atas keselamatan warga!”
Warga Menuntut Tindakan Konkret Sebelum Terlambat
Masyarakat Ogan Ilir dan pengguna jalur penghubung tiga daerah itu kini hanya memiliki satu tuntutan tegas: tindakan nyata, bukan sekadar janji. Mereka berharap pemerintah provinsi segera menurunkan tim teknis, memberikan solusi permanen, dan memastikan keselamatan masyarakat yang setiap hari bergantung pada jembatan tersebut.
Sebelum jembatan benar-benar ambruk dan memutus akses vital, warga meminta agar Gubernur Sumsel mengambil langkah cepat, terukur, dan bertanggung jawab. (mediaviral.co)
















