Mukomuko, Bengkulu — MediaViral.co
Minggu, 30 November 2025
Kasus pembayaran gaji sekuriti PT AWS yang diduga jauh di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) Bengkulu tahun 2024 dan 2025 kembali membara. Bukan lagi sekadar sorotan, tetapi kemarahan publik kini meledak karena janji-janji yang tak kunjung ditepati.
Setelah sempat viral di media lokal dan nasional, masalah ini kembali mencuat, menunjukkan betapa “luka lama” itu masih menganga. Harapan para pekerja sekuriti yang menunggu keadilan justru berubah menjadi rasa frustrasi mendalam.
PT AWS sebelumnya menjanjikan kompensasi atas kekurangan gaji yang dialami para sekuriti. Namun hingga sekarang, janji itu hanya tinggal janji. APSI, yang sejak awal mengawal kasus ini, mulai geram dengan sikap perusahaan.
“Kami sudah cukup lama diberi harapan. Faktanya sampai hari ini nol besar. PT AWS hanya pandai berjanji tanpa tindakan,” tegas seorang perwakilan APSI.
APSI mengungkapkan bahwa mereka sudah memberi kesempatan luas bagi PT AWS untuk menyelesaikan kasus ini secara damai. Namun jika yang diberikan hanya janji kosong, langkah hukum akan ditempuh.
“Kami menunggu itikad baik. Tapi kalau yang kami dapatkan hanya angin lalu, jangan salahkan kami bila tempuh jalur hukum. Keadilan harus ditegakkan,” tambahnya.
Di lapangan, para sekuriti yang merasa dirugikan tak lagi mampu menyembunyikan kekecewaan. Seorang sekuriti, dengan suara bergetar, meminta keadilan.
“Bapak wartawan, tolong bantu kami. Bagaimana hak kami yang dirampas PT AWS bisa kembali? Harapan kami seperti fatamorgana. Jangan sebut nama saya, saya masih butuh pekerjaan ini,” ujarnya penuh harap.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa PT AWS memiliki perwakilan di Mukomuko. Namun hingga berita ini ditulis, tak ada satu pun klarifikasi resmi diberikan. Bahkan Lubis, perwakilan PT AWS Agromuko yang disebut bertanggung jawab, menghilang bak ditelan bumi. Telepon dan pesan WhatsApp tak pernah direspons.
Seorang sekuriti lainnya menegaskan:
“Kami butuh perhatian pemerintah dan APSI. Kalau hak kami tidak dikembalikan, kami akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan. Kami tidak mau terus menjadi korban janji kosong,” ujarnya lantang.
Kasus ini bukan sekadar soal uang—ini soal harga diri, keadilan, dan kemanusiaan. Rasa kecewa menyelimuti para pekerja yang selama ini setia menjalankan tugas, sementara waktu terus berjalan tanpa kepastian.
Ini adalah tamparan keras bagi dunia ketenagakerjaan kita.
Komitmen dan tanggung jawab perusahaan seharusnya menjadi prinsip, bukan sekadar retorika manis yang menghianati para pekerja.
Semoga, ke depan tidak ada lagi sekuriti—atau pekerja mana pun—yang harus menangis karena janji palsu. Keadilan harus ditegakkan. Jika tidak, kita semua menjadi bagian dari sistem yang timpang dan tidak berperasaan.
(HD) (TIK) (BM)
















