Kerinci, Jambi – MediaViral.co
Permukaan air Danau Kerinci mengalami penyusutan ekstrem dan tak lazim pada Januari 2026. Ketinggian air tercatat turun hingga di bawah 0,5 meter, kondisi yang nyaris tak pernah terjadi, bahkan pada puncak musim kemarau sebelumnya.
Fenomena ini langsung memicu kecurigaan publik terhadap aktivitas proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci milik PT Kerinci Merangin Hidro (KMH), terutama terkait pengerukan sungai di hilir dan pengelolaan debit air bendungan.
Sawah Kering, Nelayan Merugi
Dampak penyusutan air tak hanya mengubah wajah danau, tetapi juga menghantam langsung kehidupan masyarakat.
Lahan pertanian warga di sekitar danau dilaporkan mengering, membuat petani gagal mengairi sawah. Sementara itu, nelayan Danau Kerinci mengeluhkan anjloknya hasil tangkapan secara drastis.
“Ikan sekarang banyak bergerak ke tengah danau. Kami sulit menjangkaunya,” ungkap salah seorang nelayan.
Turunnya volume air membuat zona tangkap semakin jauh dan berisiko, sementara biaya operasional terus meningkat.
PLTA 95 Persen, Konflik Meningkat
Di sisi lain, pembangunan PLTA Kerinci disebut telah mencapai 95 persen dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2026. Namun, progres proyek ini justru beriringan dengan gelombang protes warga.
Sejumlah warga mempersoalkan:
Pengerukan sungai yang diduga memicu penurunan debit air danau
Konflik ganti rugi lahan, khususnya di Desa Pulau Pandan
Minimnya keterbukaan soal dampak ekologis jangka panjang
Pemerintah daerah menyatakan PLTA Kerinci merupakan objek vital nasional, namun mengklaim tetap membuka ruang dialog untuk meredam konflik sosial.
Faktor Alam atau Ulah Manusia?
Warga mengakui cuaca panas ekstrem dalam beberapa waktu terakhir turut berpengaruh. Namun, dugaan keterkaitan dengan bendungan PLTA dan pengelolaan air tetap menguat di tengah masyarakat.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius: Apakah penyusutan Danau Kerinci murni faktor alam, atau ada andil proyek strategis yang luput dari pengawasan?
Masyarakat mendesak pemerintah daerah dan pihak PLTA segera turun tangan secara transparan agar nelayan dan petani tidak terus menjadi korban pembangunan.
Dani
MEDIAVIRAL.CO
















