Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Jejak Sehari Pelarian Anak Bunuh Ayah di Bandar Lampung: Motif, Kronologi Gelap, dan Celah Pengawasan Keluarga

46
×

Jejak Sehari Pelarian Anak Bunuh Ayah di Bandar Lampung: Motif, Kronologi Gelap, dan Celah Pengawasan Keluarga

Sebarkan artikel ini

Lampung — MediaViral.co

Kasus pembunuhan ayah oleh anak kandung yang terjadi di Rajabasa, Bandar Lampung, Jumat (21/11/2025), tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga meninggalkan sejumlah tanda tanya mengenai motif, kondisi relasi keluarga, hingga dinamika emosional yang memicu tragedi tersebut. Investigasi awal yang dilakukan tim gabungan kepolisian mengungkap detail bahwa peristiwa ini bukan sekadar pertengkaran seketika, tetapi diduga dipicu ketegangan lama yang tak pernah terselesaikan.

Example 300250

Pelaku RE (36), yang membunuh ayahnya M (67) dengan sebilah golok, ditangkap tim gabungan Polda Lampung, Polresta Bandar Lampung, dan Polsek Kedaton setelah melakukan pelarian selama hampir 24 jam.

Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun, Kabid Humas Polda Lampung, mengonfirmasi bahwa pelaku diamankan tanpa perlawanan di sebuah gubuk kebun singkong di Jatiagung, Lampung Selatan.


Benang Kusut Hubungan Ayah dan Anak: Dari Ajakan Bekerja hingga Urat Emosi yang Putus

Dari penelusuran polisi dan keterangan sejumlah saksi, hubungan ayah–anak ini disebut tidak harmonis dalam beberapa bulan terakhir. Korban M, yang sehari-hari bekerja di kebun di wilayah Pesisir Barat, disebut beberapa kali mencoba membujuk RE agar ikut bekerja bersamanya.

Kunjungan korban ke rumah anaknya di Jalan Sri Krisna Bayur, Gang Pendowo, Rajabasa Jaya pada Jumat pagi itu adalah upaya terakhirnya kembali mengajak RE untuk pulang ke Pesisir Barat.

Namun, menurut keterangan penyidik, RE menolak permintaan tersebut.

“Ada penolakan keras dari pelaku terhadap ajakan korban, yang kemudian memicu adu mulut,” ungkap seorang penyidik yang enggan disebut namanya.

Investigasi sementara menunjukkan bahwa RE diduga menyimpan kemarahan dan rasa tidak puas terhadap korban. Namun, polisi belum mengungkap secara pasti apakah ada perselisihan ekonomi, tekanan psikologis, atau faktor lainnya.


Adegan Pembunuhan: 90 Detik yang Mengubah Segalanya

Rekonstruksi awal menyebutkan bahwa setelah perdebatan mereda sejenak, pelaku masuk ke kamar dan mengambil sebilah golok yang disimpan di sudut ruangan. Saat kembali ke ruang tamu, korban sedang duduk di kursi — dalam posisi tidak siap menghadapi serangan.

“Pelaku mendorong korban hingga terduduk, dan langsung menebaskan golok ke arah leher korban,” ujar Yuni.

Tebasan tunggal tersebut cukup untuk menghabisi nyawa korban. Hasil olah TKP menunjukkan bahwa korban meninggal seketika akibat luka parah di bagian vital.

Sementara, RE langsung kabur keluar rumah membawa golok, meninggalkan tubuh ayahnya dalam kondisi mengenaskan.


Pelarian 24 Jam: Menghindar Lewat Jalur Perkebunan

Setelah pembunuhan, RE bergerak cepat. Berdasarkan pelacakan awal polisi, pelaku menuju kawasan perbatasan Bandar Lampung–Lampung Selatan melalui jalur permukiman dan kebun.

Tim gabungan yang dikerahkan sejak Jumat siang mulai menyisir sejumlah titik persembunyian yang umum digunakan pelaku kriminal, mulai dari rumah kerabat, bangunan kosong, hingga gubuk di tengah lahan pertanian.

Seorang warga Desa Karanganyar menyebut sempat melihat sosok mencurigakan pada Sabtu sore.

“Dia lewat sendirian, bawa tas kecil. Saya kira orang kebun biasa,” ujar warga tersebut.

Informasi itu menjadi salah satu petunjuk yang mengarahkan polisi ke sebuah gubuk kecil di tengah kebun singkong. Di sanalah pelaku ditangkap sekitar pukul 19.15 WIB.

Barang bukti yang diamankan meliputi:

Sebilah golok berlumur bekas darah

Pakaian yang dipakai pelaku saat kejadian

Tas berisi pakaian cadangan


Mengapa Bisa Terjadi? Polisi Dalami Motif Psikologis dan Ekonomi

Meski konflik antara orang tua dan anak bukan hal baru, polisi menilai kasus ini memiliki unsur emosional yang cukup kuat. Ada dugaan pelaku sedang mengalami tekanan batin, namun penyidik masih terus mendalami.

Beberapa kemungkinan yang sedang ditelusuri:

  1. Konflik ekonomi dan pekerjaan

Penolakan RE untuk ikut bekerja di kebun bisa menunjukkan adanya masalah finansial atau ketidaksiapan menjalani pekerjaan berat.

  1. Ketidakstabilan emosi pelaku

Polisi akan melakukan pemeriksaan psikologis untuk mengetahui kondisi mental RE sebelum dan sesudah kejadian.

  1. Ketegangan keluarga yang menumpuk

Saksi menyebut pelaku dan korban beberapa kali terlibat perselisihan dalam beberapa bulan terakhir.


Potret Buram Kekerasan Dalam Keluarga

Kasus ini menambah panjang daftar kekerasan yang terjadi dalam lingkup keluarga (KDRT) di Lampung. Data LSM dan kepolisian menyebut, dalam dua tahun terakhir, konflik keluarga yang berujung tindak kriminal mengalami tren peningkatan.

Kasat Reskrim Polresta Bandar Lampung sebelumnya pernah menyampaikan bahwa banyak kasus kekerasan keluarga tidak terdeteksi hingga menimbulkan tragedi.

“Biasanya ada masalah lama yang tidak terselesaikan, tapi tidak pernah dilaporkan hingga akhirnya meledak menjadi kekerasan fatal,” ujarnya dalam sebuah diskusi publik, beberapa bulan lalu.


Penutup: Polisi Melakukan Pendalaman

RE kini ditahan di Mapolsek Kedaton dan menghadapi ancaman pasal terkait pembunuhan berencana maupun pembunuhan dengan pemberatan. Pemeriksaan lanjutan akan menentukan apakah pelaku bertindak spontan atau ada unsur kesengajaan yang direncanakan.

Polda Lampung memastikan kasus ini akan ditangani secara menyeluruh, termasuk mendorong masyarakat agar tidak ragu melaporkan konflik keluarga yang berpotensi berbahaya.

Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa tekanan emosional dalam keluarga dapat berubah menjadi tragedi mematikan jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak awal. (mediaviral.co)

Example 300x375