Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Ekspedisi Sriwijaya ke Bhūmi Jawa: Menelusuri Jejak Penaklukan Berdasarkan Prasasti-Prasasti Kuno

0
×

Ekspedisi Sriwijaya ke Bhūmi Jawa: Menelusuri Jejak Penaklukan Berdasarkan Prasasti-Prasasti Kuno

Sebarkan artikel ini

Jakarta – MediaViral.co

Prasasti-prasasti kuno kembali menjadi perhatian para pemerhati sejarah dalam mengungkap hubungan antara Kerajaan Sriwijaya dan Pulau Jawa pada abad ke-7 hingga ke-10 Masehi. Sejumlah prasasti dinilai membuka ruang interpretasi bahwa ekspedisi Sriwijaya ke Bhūmi Jawa bukan sekadar ancaman militer, melainkan kemungkinan menjadi awal terbentuknya pengaruh politik di sebagian wilayah Jawa.

Example 300250

Dasar utama pandangan tersebut adalah Prasasti Kota Kapur yang bertarikh 686 M. Prasasti berbahasa Melayu Kuno itu secara tegas menyebut rencana ekspedisi Sriwijaya ke Bhūmi Jawa terhadap pihak yang dianggap tidak tunduk kepada kekuasaan Sriwijaya. Meski demikian, prasasti tersebut tidak menjelaskan hasil akhir dari ekspedisi tersebut.

Ketiadaan catatan mengenai keberhasilan maupun kegagalan ekspedisi memunculkan berbagai penafsiran di kalangan peneliti. Salah satu hipotesis menyatakan bahwa apabila ekspedisi itu berhasil, maka pengaruh Sriwijaya kemungkinan tidak hanya diwujudkan melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui sistem administrasi dan birokrasi.

Dugaan tersebut didasarkan pada kemunculan Prasasti Sojomerto di Jawa Tengah yang menggunakan bahasa Melayu Kuno. Walaupun tidak menyebut nama Sriwijaya secara langsung, penggunaan bahasa administrasi yang sama dinilai dapat menjadi salah satu indikasi adanya hubungan dengan jaringan politik atau budaya Melayu yang berkembang pada masa itu.

Jejak berikutnya terlihat pada Prasasti Kebon Kopi II di Jawa Barat. Prasasti ini juga menggunakan bahasa Melayu Kuno dan memuat keterangan mengenai dikembalikannya tatanan pemerintahan kepada Raja Sunda melalui pengumuman seorang pejabat bergelar Rakryan Juru Pangambat.

Berbeda dengan prasasti kemenangan perang, Prasasti Kebon Kopi II justru berisi keputusan administratif. Kalimat mengenai “dikembalikannya tatanan pemerintahan kepada kekuasaan Raja Sunda” ditafsirkan oleh sebagian peneliti sebagai indikasi bahwa sebelumnya pernah terjadi perubahan dalam struktur pemerintahan di wilayah tersebut.

Jika ketiga prasasti tersebut dibaca secara kronologis, muncul sebuah pola yang menarik: Prasasti Kota Kapur mencatat ekspedisi Sriwijaya ke Bhūmi Jawa, Prasasti Sojomerto menunjukkan keberadaan bahasa Melayu Kuno di Jawa Tengah, dan Prasasti Kebon Kopi II memperlihatkan bahasa yang sama masih digunakan dalam dokumen administratif di Jawa Barat beberapa abad kemudian.

Rangkaian ini membuka kemungkinan bahwa ekspedisi Sriwijaya tidak berhenti pada operasi militer semata, melainkan diikuti oleh terbentuknya pengaruh politik dan administrasi di sejumlah wilayah. Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti langsung yang memastikan bahwa penyerangan Sriwijaya berhasil menaklukkan seluruh atau sebagian Pulau Jawa.

Oleh karena itu, pandangan mengenai keberhasilan penyerangan Sriwijaya masih merupakan hipotesis sejarah yang didasarkan pada pembacaan terhadap sejumlah prasasti dan belum menjadi kesimpulan yang diterima secara universal. Kajian lebih lanjut melalui penelitian arkeologi, epigrafi, dan filologi masih diperlukan untuk memperkuat atau menguji interpretasi tersebut. (mediaviral)

Example 300x375