Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Bahasa Ogan Disebut Paling Dekat dengan Melayu Asli Palembang, Dialek “O” Kota Dinilai Hasil Perubahan Sejarah

14
×

Bahasa Ogan Disebut Paling Dekat dengan Melayu Asli Palembang, Dialek “O” Kota Dinilai Hasil Perubahan Sejarah

Sebarkan artikel ini

Palembang, Sumatera Selatan – MediaViral.co

Polemik mengenai bahasa asli Palembang kembali mencuat dan semakin tajam. Sejumlah tokoh budaya Melayu Sumatera Selatan mulai menyuarakan sikap tegas: dialek “e” yang digunakan masyarakat Suku Ogan dinilai paling dekat dengan bahasa Melayu asli yang berkembang sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam, sementara dialek “o” yang kini dominan di Kota Palembang disebut sebagai bentuk bahasa yang muncul belakangan akibat perubahan sejarah.

Example 300250

Pernyataan ini muncul karena perbedaan mencolok antara bahasa masyarakat kota Palembang yang menggunakan kata “apo”, “kito”, dan “mano” dengan bahasa masyarakat Ogan yang menggunakan “ape”, “kite”, dan “mane”.

Bagi sebagian pemerhati budaya Melayu, perbedaan ini bukan sekadar variasi dialek biasa, tetapi mencerminkan perubahan besar dalam perjalanan sejarah Palembang.

“Kalau kita lihat secara jujur, dialek ‘e’ yang digunakan masyarakat Ogan jauh lebih dekat dengan Melayu asli. Bahkan hampir sama dengan bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia. Ini tidak bisa dipungkiri,” ujar seorang tokoh budaya Melayu di Palembang.

Kesamaan tersebut terlihat jelas dalam banyak kata dasar Melayu seperti “ape”, “kite”, dan “mane”, yang identik dengan bahasa Melayu di Malaysia. Hal ini membuat banyak kalangan meyakini bahwa dialek “e” merupakan bentuk Melayu yang lebih tua dibandingkan dialek “o” yang berkembang di kota.

Dialek “e” hingga kini masih bertahan kuat di wilayah-wilayah yang menjadi basis masyarakat Ogan seperti Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Ogan Ilir, serta beberapa daerah lain di Sumatera Selatan.

Sebaliknya, dialek “o” yang kini identik dengan Palembang kota justru dinilai banyak kalangan sebagai hasil perubahan sosial yang terjadi setelah runtuhnya Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1821 dalam peristiwa Penaklukan Palembang oleh Belanda 1821.

Sejumlah cerita sejarah lisan menyebutkan bahwa setelah kekalahan kesultanan dari Belanda, banyak masyarakat Palembang memilih meninggalkan pusat kota karena menolak tunduk pada kekuasaan kolonial. Kondisi tersebut kemudian mengubah komposisi penduduk di Palembang.

Pada masa kolonial, pemerintah Belanda mendatangkan tenaga kerja dari berbagai daerah, terutama dari Pulau Jawa, untuk mengisi kebutuhan ekonomi di kota Palembang. Masuknya penduduk baru dari berbagai latar belakang budaya inilah yang diyakini sebagian kalangan turut memengaruhi perubahan dialek bahasa di kota.

Akibat percampuran budaya tersebut, bahasa Melayu yang sebelumnya lebih dekat dengan dialek “e” disebut perlahan berubah menjadi dialek “o” yang kini dikenal sebagai bahasa Palembang kota.

Sebaliknya, masyarakat Ogan yang tinggal di wilayah pedalaman relatif tidak mengalami perubahan besar dalam komposisi penduduk. Kondisi ini membuat bahasa mereka tetap mempertahankan bentuk Melayu lama yang diwariskan secara turun-temurun.

“Kalau ingin melihat bagaimana bentuk Melayu lama di wilayah Palembang, lihatlah bahasa masyarakat Ogan. Di sanalah jejak Melayu asli itu masih hidup,” tegas seorang pemerhati budaya Sumatera Selatan.

Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik terhadap anggapan umum yang selama ini mengidentikkan dialek “o” sebagai bahasa asli Palembang. Menurut sejumlah kalangan budaya, anggapan tersebut perlu diluruskan agar sejarah dan identitas Melayu di Sumatera Selatan tidak disalahpahami.

Bagi masyarakat Ogan, bahasa dialek “e” bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas Melayu lama yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.

Karena itu, semakin banyak pihak yang menyerukan agar bahasa Ogan dan dialek “e” diakui sebagai salah satu warisan penting dari tradisi Melayu yang pernah berkembang di wilayah Palembang sejak masa kesultanan. (mediaviral.co)

Example 300x375